Penjualan Kue Kering di Bandar Lampung Meningkat Jelang Nataru

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Penjualan sejumlah kue kering di sejumlah pasar alami peningkatan di Bandar Lampung. Uni Ulet, pedagang kue kering di lantai satu Blok A Pasar SMEP, Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung menyebut ia menerima permintaan dua kali lipat dibanding dua bulan sebelumnya.

Permintaan kue kering kerap meningkat menjelang hari besar keagamaan, seperti lebaran Idul Fitri dan Natal. Memanfaatkan momen, dagangannya di dekat gereja GPBI di Jalan Imam Bonjol, lebih cepat terjual.

Berbagai jenis kue kering yang disediakan berupa roti kering, emping, cokelat, permen, kerupuk ikan, getas hingga pilus. Kue kering dijual dalam kemasan dengan harga mulai Rp10.000 hingga Rp50.000. Sebagian dijual dengan sistem timbangan mulai Rp20.000 hingga Rp100.000 perkilogram.

“Kue kering dijual dalam wadah toples, plastik sehingga lebih awet dengan pilihan cukup beragam,” terang Uni Ulet saat ditemui Cendana News, Sabtu (4/12/2021).

Uni Ulet menyebut penjualan kue kering untuk kebutuhan Natal dan Tahun Baru (Nataru) juga diiringi kunjungan wisata. Menempati lokasi penjualan di pasar SMEP yang baru membuat lokasi lebih strategis. Sebab lokasi berada di jalan penghubung kabupaten Pesawaran dan kota Bandar Lampung.

Pedagang kue kering lain, Nisa di Jalan Batu Sangkar, Tanjung Karang Pusat juga mengaku penjualan meningkat. Ia menyebut penertiban pedagang berimbas konsumen lebih mudah parkir. Sebelumnya pedagang kaki lima bertahan di wilayah tersebut sehingga kendaraan motor dan mobil tidak bisa parkir. Jenis kue kering yang banyak diminati dominan jenis kerupuk ikan, getas ikan, emping dan berbagai jenis cokelat, permen.

“Jelang akhir tahun sebagian warga merayakan Natal dan kerap melakukan acara keluarga dengan hidangan kue kering,” bebernya.

Salah satu konsumen, Stevani, menyebut membeli kue kering untuk dikirim ke kampung. Ia membeli sejumlah kue kering untuk dikirim sebab libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) ditiadakan. Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dengan penghapusan libur Nataru membuat ia tidak pulang ke kampung.

“Sebagian kue kering bisa dikirim untuk hadiah Natal sebagai hantaran sehingga bisa merayakan meski tidak pulang,” bebernya.

Kue kering yang dibeli sebut Stevani akan dibentuk menjadi kemasan. Berbagai jenis kue dirangkai dalam bentuk hantaran atau parsel disertai dengan sejumlah hadiah.

Gok Son Sinaga, salah satu pedagang oleh oleh kerupuk kemplang di Jalan Lintas Sumatera, Panjang, Bandar Lampung, Sabtu (4/12/2021). Foto: Henk Widi

Pedagang kue kering, Gok Son Sinaga, di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Panjang mengaku permintaan kerupuk kemplang yang dijual mulai harga Rp10.000 perbungkus mulai meningkat .

“Kerupuk kemplang banyak diminati pelanggan untuk oleh oleh lengkap dengan sambal tomat,” ulasnya.

Permintaan keripik pisang sebut Gok Son Sinaga akan mengalami peningkatan saat libur Nataru. Namun rencana larangan mudik dan peniadaan libur Nataru akan berimbas pada penjualan oleh oleh. Setiap hari ia mampu menjual belasan bungkus. Omzet sekitar puluhan hingga ratusan ribu diperoleh dari penjualan jenis makanan ringan tersebut.

Lihat juga...