Petani di Lamsel Percepat Pengolahan Lahan Agar Bisa Tanam Serentak

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Memasuki musim penghujan, sebagian petani di Lampung Selatan memulai masa tanam. Salah satunya, Wagiman, petani di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, yang mengaku memanfaatkan siring alam.

Wagiman mengatakan, irigasi dengan sistem siring alam digunakan untuk mengairi puluhan hektare lahan sawah. Sebagai solusi, petani melakukan sistem pembagian air.

“Pembagian air dilakukan untuk mengejar masa tanam. Lahan dengan pasokan air dari Gunung Rajabasa itu digunakan serentak untuk mengejar masa tanam sesuai masa tanam rendengan atau masa tanam pertama,” jelas Wagiman saat ditemui Cendana News, Senin (20/12/2021).

Ia menjelaskan, percepatan pengolahan lahan dilakukan dengan menggunakan alat dan mesin pertanian jenis traktor. Penggunaan traktor dilakukan untuk mempercepat penyiapan lahan maksimal tiga hari.

Menyiapkan benih padi varietas Ciherang umur 18 hari, ia melakukan penghalusan tanah. Normalnya dengan memakai cangkul dan bajak tenaga kerbau, pengolahan dilakukan selama sepekan. Ia akan mulai melakukan penanaman saat bibit padi berusia 20 hari.

Mesin pompa air digunakan Wagiman untuk pengolahan lahan di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (20/12/2021). -Foto: Henk Widi

Sementara itu, pengolahan lahan sawah dengan sistem pembagian air, dilakukan memakai mesin sedot tenaga diesel, agar penanaman bisa serentak untuk memaksimalkan air.

“Kami menggunakan pompa air, karena lokasi sawah berada lebih tinggi dari siring alam, penggunaan mesin pompa efektif membagi air secara merata saat pengolahan lahan hingga proses penanaman, sesudahnya bisa dibagi ke lahan sawah milik petani lain,” terang Wagiman.

Wagiman menyebut, lahan seluas setengah hektare sudah siap untuk proses penanaman. Sebelum proses penanaman, ia akan melakukan penghalusan dan menggaris petak untuk penanaman sistem jajar legowo.

Lihat juga...