Pondok Baca Kampung Kabor Butuh Donasi Buku

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Pondok Baca Kampung Kabor di Kelurahan Kabor, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih membutuhkan banyak donasi buku dari para donatur. Pendiri Pondok Baca Kampung Kabor, Yohanes Kia Nunang, mengaku masih kekurangan banyak buku bacaan bagi anak-anak usia SD sampai SMP.

“Kami masih sangat kekurangan banyak buku bacaan. Buku baca yang ada merupakan koleksi dari almarhum teman saya, Oby da Rato, yang bersama saya berniat membangun pondok baca,” ungkapnya, saat ditemui di rumahnya, Kamis (2/12/2021).

Yanto, sapaannya, menyebutkan pembangunan pondok baca ini merupakan perwujudan dari mimpi almarhum Oby yang belum sempat terwujud.

Dia mengatakan, ada juga sumbangan buku dari beberapa pribadi dan wartawan yang menyumbang koran, termasuk lemari bekas dari sang mertua untuk menyimpan buku.

“Saya memulainya dengan modal nekat dan semangat saja. Untuk membeli bangku, terpal dan lainnya ada juga sumbangan uang dari donatur yang peduli dengan nasib anak-anak kita,” ucapnya.

Yanto mengaku terbantu dengan adanya relawan yang membantunya mengajar, baik guru sekolah dasar maupun mahasiswi serta teman-teman anak muda.

Dia mengatakan, dengan adanya pondok baca ini anak-anak bukan saja mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi karakter mereka bisa dibentuk sejak usia dini.

“Bukan saja ilmu pengetahuan yang anak-anak, dapat tapi membentuk karakter mereka sejak usia dini. Anak-anak dididik untuk mencintai Tuhan, sesama dan bangsa ini,” ungkapnya.

Yanto mengatakan, banyak anak SD belum bisà melafalkan 5 sila Pancasila, sehingga setiap hari anak-anak juga diajarkan melafalkannya hingga benar-benar bisa hafal.

Sementara itu Guru di SD Inpres Wairotang, Maumere, Meri Miyanti, mengaku senang menjadi relawan di pondok baca Kampung Kabor, karena prihatin dengan nasib anak-anak.

Yanti, sapaannya, juga mengaku prihatin dengan kondisi anak-anak yang sudah mulai jarang membaca buku dan lebih sibuk menonton televisi, dan bermain gim di telepon genggam.

“Saya tertarik menjadi relawan, sebab merasa prihatin dengan kondisi anak-anak sekarang ini yang lebih fasih main gim online dan aktif di media sosial daripada membaca membaca buku,” ungkapnya.

Lihat juga...