Ratusan Orang Rimba di Jambi Telah Divaksin, Sebut KKI Warsi

JAMBI — Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi mencatat hingga Oktober 2021, cakupan vaksinasi di kelompok-kelompok orang rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) pada beberapa kabupaten di Provinsi Jambi sudah mencapai ratusan orang dan berharap kelompok SAD lainnya juga mau divaksinasi untuk membentuk kekebalan kelompok.

“Selama Warsi mendampingi kelompok orang rimba untuk kawasan Sungai Terap sudah lebih dari 100 orang rimba yang telah divaksinasi, baik untuk dosis pertama maupun yang sudah lengkap dan di kelompok lain juga sudah mulai banyak terjangkau untuk divaksin,” kata Humas KKI Warsi Sukmareni, di Jambi, Jumat.

Vaksinisasi juga terus diluaskan ke kelompok orang rimba di jalan lintas, di Kabupaten Merangin, Bungo dan Tebo, dan juga Sarolangun. Sasaran vaksinasi makin diperluas, termasuk kepada rrang rimba, komunitas suku adat yang tinggal di Provinsi Jambi.

Sasaran vaksinasi ditujukan untuk orang rimba yang sudah memiliki interaksi yang tinggi dengan kelompok masyarakat lainnya, terutama dalam interaksi jual beli dan bahkan sebagian orang rimba yang sudah bermukim atau tinggal di rumah-rumah yang sudah berintegrasi dengan desa.

“Warsi bersama dengan puskesmas terdekat dengan orang rimba terus melakukan sosialisasi untuk melaksanakan vaksinasi orang rimba,” kata Maria Kristina, fasilitator kesehatan pada KKI Warsi.

Dikatakan Maria, dalam pelaksanaan vaksinasi ini, orang rimba terlebih dahulu mendapatkan penjelasan dari tenaga medis, KKI Warsi dan tenaga medis dari puskesmas dan dinas kesehatan tentang vaksin itu sendiri, mengapa diperlukan, dampak ikutan yang mungkin timbul serta penanganannya.

“Suku adat sudah masuk daftar kelompok yang akan menerima vaksin sejak vaksin sampai di Indonesia,” kata Maria.

Para medis dan fasilitator kesehatan KKI Warsi berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lain memberi penjelasan tentang vaksin dan dalam pelaksanaan vaksinasi ini, fasilitator KKI Warsi juga melakukan sosialisasi pada petugas medis untuk mengantisipasi dampak ikutan pascavaksinasi.

“Bagi orang rimba sakit yang timbul setelah suatu kegiatan, bisa salah diterjemahkan yang berbuntut penolakan untuk pelaksanaan vaksinasi berikutnya atau layanan kesehatan berikutnya dan untuk itulah persiapan sebelum pelaksanaan vaksin harus sangat matang dan memperhitungkan segala kemungkinan,” kata Maria.

Tim yang bertugas menyuntikkan vaksin juga sepakat mereka akan melakukan pemantauan KIPI langsung. Kalau di kota, KIPI bisa dilaporkan melalui aplikasi atau menelpon langsung nomor tenaga medis penanggung jawab, sedangkan pada orang rimba, karena keterbatasan jaringan informasi, maka tenaga medisnya yang tinggal selama dua hari bersama orang rimba.

Setelah semua siap dan vaksin tersedia, kara Maria, mulailah dilakukan vaksinisasi pada orang rimba dan awalnya di kelompok yang banyak bermukim di Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam. Di desa itu, walau konsentrasi orang rimba cukup besar, namun komunitas ini yang berhasil disuntik vaksin masih belasan orang.

Sementara itu, menurut Tumenggung Grip, isu seputar vaksin yang menyesatkan banyak mempengaruhi orang rimba dan karena itu dirinya menjadikan yang pertama untuk disuntik vaksin dengan maksud memberi contoh pada anggota kelompoknya.

Vaksinasi perdana di Sungai Terap untuk orang rimba yang secara administrasi tergabung ke Desa Jelutih, Kecamatan Bathin XXIV, Kabupaten Batanghari, juga hanya diikuti belasan orang.

Tumenggung Ngelembo juga tampil sebagai contoh bagi anggota kelompoknya supaya menerima program vaksinasi. Karena Sungai Terap tidak terjangkau sinyal dan juga akses yang jauh keluar, petugas medis yang sudah melakukan vaksinisasi tidak langsung pulang.

“Akan tetapi petugas medis dan Warsi bermalam bersama kelompok untuk mengantisipasi KIPI, selama dua malam petugas medis tinggal bersama komunitas untuk menjamin dampak yang timbul bisa dikendalikan,” kata Maria.

Selanjutnya vaksin menyentuh orang rimba di Pemenang Merangin dan Pelepat Bungo serta Tebo. Dengan penjelasan yang baik dan juga antisipasi KIPI yang dilakukan program vaksin untuk orang rimba bisa berjalan dengan baik dan hingga Oktober 2021 orang rimba yang sudah menerima vaksin sudah lumayan banyak. [Ant]

Lihat juga...