Tertekan Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga, Saham Jepang Berakhir Jatuh

TOKYO — Saham-saham di bursa saham Jepang berakhir jatuh pada Jumat, menghapus sebagian besar kenaikan yang dibuat di sesi sebelumnya, karena investor menjadi berhati-hati tentang kenaikan suku bunga setelah bank sentral AS dan Inggris mengambil langkah hawkish, sementara kekhawatiran atas varian virus corona Omicron memukul saham terkai perjalanan.

Indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) terperosok 1,79 persen atau 520,64 poin menjadi ditutup pada 28.545,68 poin, setelah naik lebih dari 2,0 persen pada Kamis (16/12/2021). Indeks melemah 0,56 persen untuk minggu ini.

Sementara itu, indeks Topix yang lebih luas kehilangan 1,42 persen atau 28,61 poin menjadi menetap di 1.984,47 poin, dan melemah 0,35 persen untuk minggu ini.

“Penurunan hari ini adalah reaksi alami terhadap pengetatan moneter The Fed. Pasar melonjak kemarin karena mereka yang telah menjual saham Jepang membeli kembali saham,” kata Tomoichiro Kubota, analis pasar senior di Matsui Securities.

“Menjelang akhir tahun, sebagian besar investor akan tetap berhati-hati tentang pengetatan moneter.”

Pada Rabu (15/12/2021), The Fed mengatakan akan mempercepat pengurangan stimulus pembelian obligasi untuk mengakhiri program pada Maret, menyiapkan kenaikan suku bunga tiga perempat poin tahun depan.

Bank sentral Inggris semalam juga mengejutkan pasar dengan menjadi bank sentral global besar pertama yang menaikkan suku bunga.

Di Jepang, saham teknologi mengikuti penurunan tajam semalam pada rekan-rekan AS di Nasdaq, dengan Tokyo Electron yang terkait chip memimpin penurunan Nikkei, kehilangan 3,18 persen. Produsen AC Daikin Industries turun 2,59 persen dan investor teknologi SoftBank Group jatuh 2,87 persen.

Saham-saham terkait perjalanan terpukul setelah laporan tentang kasus pertama infeksi Omicron yang didapat di dalam negeri. Maskapai penerbangan dan kereta api masing-masing kehilangan 1,26 persen dan 1,49 persen.

Sementara itu, Oriental Land, operator Tokyo Disney Resort, merosot 4,4 persen. [Ant]

Lihat juga...