Berbagai Kultivar Kelapa Jadi Sumber Penghasilan Petani Lamsel

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Agus Irawan, warga Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, membudidayakan kultivar kelapa dalam, hibrida dan jenis kelapa cungap merah dan gading. Berbagai kultivar kelapa tersebut ditanam di lahan kebun, sawah dan pekarangan. Regenerasi mudah dengan cikal atau buah kelapa tua berkualitas, menjadi cara menghasilkan kelapa produktif.

Agus Irawan menyebut ,jenis kelapa paling dominan dibudidayakan warga berasal dari kultivar hibrida. Menurutnya, dalam sejarahnya kelapa hibrida dibagikan kepada petani sejak awal 1990an, sebagai upaya penghijauan.

Kawasan lahan pertanian yang sebagian berada di hutan Register 1 Way Pisang, menjadikan kelapa hibrida sebagai multypurpose tree species (MPTS) untuk penghijauan. Hasil panen kelapa hibrida bisa menjadi bahan santan, minyak goreng, kopra dan kelapa muda atau dugan.

“Budi daya kelapa bisa jadi investasi jangka menengah dan panjang. Sebagian kelapa kultivar genjah atau cepat berbuah jenis hibrida dengan waktu berbuah empat hingga lima tahun bisa dipanen,” kata Agus Irawan, saat ditemui Cendana News, Senin (3/1/2022).

Menurut Agus Irawan, menanam ratusan pohon kelapa secara berjajar pada lahan tanaman jagung, menjadi cara untuk mendapat keuntungan. Buah kelapa dipanen menyesuaikan permintaan untuk kebutuhan kelapa muda hingga kelapa tua sebagai bahan kopra berkelanjutan.

Pemanfaatan kelapa untuk bahan kopra dilakukan Karia di Desa Rawi, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Senin (3/1/2022). –Foto: Henk Widi

“Tanaman kelapa dibudidayakan sebagai pembatas kebun, pekarangan dengan cara berjarak agar bisa diselingi dengan tanaman lain, sekaligus sebagai penaung untuk komoditas pertanian lain jenis jagung, pisang hingga cabai rawit. Sehingga menjadi keuntungan pada sistem pertanian tumpangsari,” terang Agus.

Agus Irawan menjelaskan lagi, tanaman kelapa juga dimanfaatkan sebagai bahan kebutuhan bumbu. Seiring tren permintaan kelapa muda yang meningkat, petani juga mulai memilih memanen kelapa muda.

“Kelapa muda jenis hijau dan cungap merah, bisa dipanen dengan sistem sortasi atau pemilihan. Kelapa muda yang dipanen akan dimanfaatkan air dan daging buah sebagai minuman menyegarkan,” kata Agus Irawan.

Kelapa muda atau dugan, sebut Agus Irawan, dijual mulai harga Rp3.000 hingga Rp8.000. Sedangkan, kelapa yang dipanen saat tua sebagai bahan kopra dan pembuatan minyak goreng dijual seharga Rp4.000 per butir. Penjualan hasil panen kelapa bisa menjadi sumber penghasilan. Sekali panen, ia mengaku bisa mendapatkan hasil hingga jutaan rupiah. Sebagian petani yang memiliki kelapa hibrida menyewakannya sebagai sumber pembuatan gula merah.

“Kelapa dideres pada bagian bunga sebagai bahan pembuatan gula merah, dan bisa disewakan jutaan rupiah untuk ratusan pohon,” ulasnya.

Petani lain, Ardiyanto, warga Desa-Kecamatan Bakauheni, juga mengatakan kelapa jadi komoditas utama. Petani dominan menanam kelapa sebagai sumber bumbu untuk pembuatan santan. Warga yang menghemat minyak goreng bisa membuatnya dari kelapa tua. Sebagian warga menjadikan tanaman kelapa sebagai sumber penghasilan, dengan memanen bagian daun kelapa muda atau janur untuk upacara adat atau ritual keagamaan.

“Daun kelapa muda bisa digunakan sebagai bahan penjor, pembuatan kulit ketupat hingga sapu lidi, sehingga memiliki nilai ekonomis,” ulasnya.

Budi daya kelapa kultivar genjah, sebut Ardiyanto cukup mudah. Memanfaatkan kelapa yang telah tua dan berkualitas, butir kelapa dibuat menjadi bibit. Setelah akar muncul, bibit kelapa bisa dipindahkan ke lahan pertanian dengan masa tanam empat hingga lima tahun.

“Kultivar genjah bisa berbuah saat usia tiga hingga empat tahun. Kelapa yang dipanen sebagai komoditas pertanian menjadi sumber ekonomi selama pohon berbuah. Saat tidak produktif, pohon bisa ditebang menjadi bahan bangunan,” jelasnya.

Sementara itu, Karia, perajin kopra di Desa Rawi, Penengahan, menyebut kultivar kelapa dalam dipanen saat tua. Kultivar kelapa dalam dominan memiliki pohon tinggi dan berbuah lebat. Setelah dipanen, kelapa dikupas menghasilkan air bahan pembuatan nata de coco, serabut bahan cocofiber dan batok bahan arang.

“Nilai ekonomis kelapa yang tinggi membuat petani bisa mendapatkan keuntungan berlipat dari budi daya kelapa,” kata Karia.

Regenerasi tanaman  berkelanjutan, saat ini dominan memilih kultivar genjah berbatang pendek, cepat berbuah, dan lebih menghasilkan, tambahnya.

Penggunaan kelapa bernilai ekonomis juga diakui Aminah, warga Desa Pasuruan, Penengahan. Ia mengaku mendapat pasokan dari petani ratusan butir per hari. Pemilik usaha kuliner warung makan, ibu rumah tangga, membeli kelapa dalam bentuk sudah diparut. Kebutuhan santan, kelapa parut untuk kuliner membuat komoditas kelapa sangat penting.

“Petani membudidayakan kelapa untuk berbagai kebutuhan dominan untuk kuliner. Budi daya jenis kelapa genjah, membuat stok selalu cukup untuk kebutuhan kuliner,” pungkasnya.

Lihat juga...