Pasar Saham Asia Tergelincir pada Perdagangan Sesi Pagi Rabu

HONG KONG — Pasar saham Asia tergelincir pada perdagangan sesi pagi Rabu, menyusul sesi Wall Street yang beragam karena imbal hasil obligasi pemerintah AS yang lebih tinggi membebani perusahaan teknologi global dan mendorong dolar ke level tertinggi lima tahun terhadap yen Jepang.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS naik pada Selasa (4/1/2022) karena investor obligasi bersiap untuk kenaikan suku bunga dari Federal Reserve pada pertengahan tahun guna mengekang inflasi yang sangat tinggi.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,8 persen, sementara indeks Nikkei Jepang sedikit berubah. Saham berjangka AS juga tergelincir dengan indeks berjangka e-mini S&P 500 dan Nasdaq merosot masing-masing 0,25 persen dan 0,4 persen.

“Dari perspektif Asia, ini adalah nada yang sedikit lebih berisiko karena ini adalah salah satu hari di mana imbal hasil obligasi yang lebih tinggi adalah hal yang buruk, meskipun mencerminkan latar belakang AS yang lebih kuat, mereka cenderung mendukung dolar daripada mata uang lokal,” kata Rob Carnell, kepala penelitian Asia Pasifik di ING.

“Tapi itu cukup berombak, besok kita mungkin kembali berpikir bahwa imbal hasil yang lebih tinggi mencerminkan latar belakang global yang lebih kuat,” kata Carnell.

Dia mengatakan penurunan semalam di Nasdaq karena imbal hasil yang lebih tinggi membebani pasar saham Asia mengingat signifikansi yang lebih besar dari saham teknologi di wilayah tersebut.

Saham teknologi yang tercatat di Hong Kong kehilangan 3,7 persen di awal perdagangan, sementara di Jepang, Nintendo tergelincir 1,0 persen dan di Korea Selatan Samsung jatuh 2,0 persen menjelang hasil kuartalannya.

Lihat juga...