Piala Afrika Dihantui Konflik Kamerun

JAKARTA – Iring-iringan kendaraan lapis baja berpatroli di berbagai jalan kota Limbe di bagian barat daya Kamerun yang dilanda konflik, padahal di negara ini putaran final Piala Afrika segera digelar pada 9 Januari 2022.

Kelompok separatis militan bersumpah untuk mengganggu turnamen sepak bola sebenua Afrika itu. Kamerun menyiapkan enam kota sebagai venue Piala Afrika. Salah satu kota itu, Limbe, bisa menjadi yang paling tidak aman setelah diguncang serangan bersenjata sejak pecah perang di wilayah ini pada 2017.

Konflik di mana kelompok-kelompok bersenjata berusaha membentuk negara sendiri bernama Ambazonia itu, sudah menewaskan sedikitnya 3.000 orang dan memaksa hampir satu juta orang mengungsi.

Kekerasan memburuk tahun ini karena separatis makin intensif menggunakan bahan peledak rakitan.

“Yang saya takutkan adalah fenomena ledakan bom yang baru-baru ini terjadi di bagian lain itu bisa menjadi fenomena umum selama Piala Afrika berlangsung,” kata wartawan setempat Honore Kuma seperti dikutip Reuters.

Ketidakamanan hanyalah salah satu masalah yang dihadapi turnamen ini. Kekhawatiran mengenai kesiapan stadion dan penyebaran varian Omicron juga menjadi berita utama selama beberapa pekan terakhir.

Stadion Omnisport di Limbe akan menjadi tuan rumah pertandingan Grup F yang dihuni Tunisia, Mali, Mauritania dan Gambia. Pertandingan pertama grup ini mempertemukan Tunisia dengan Mali pada 12 Januari.

Buea yang bertetangga dengan Limbe dan menjadi venue latihan untuk tim-tim Grup F, diguncang dua ledakan November lalu, termasuk satu di sebuah universitas yang melukai 11 mahasiswa.

Lihat juga...