Tarif Menyelundupkan Warga Afghanistan, Melonjak

LONDON – Sebagai seorang jaksa perempuan di Afghanistan, Shafiqa Sae tahu dia harus pergi menyelamatkan diri ketika Taliban merebut kekuasaan. Yang tidak dia duga adalah ongkosnya yang sangat mahal.

Para penyelundup mengeksploitasi keputusasaan warga Afghanistan untuk meninggalkan negara itu.

Mereka menaikkan tarif setelah permintaan atas jasa mereka meningkat dan perbatasan makin sulit untuk dilalui.

Orang-orang Afghanistan, yang lari ke Pakistan sejak Taliban menduduki ibu kota Kabul pada 15 Agustus tahun lalu, mengatakan oknum aparat keamanan Pakistan juga memeras uang mereka dan sejumlah tuan tanah menggandakan tarif sewa.

“Setiap orang mengambil keuntungan dari kondisi kami yang buruk untuk mendapatkan uang,” kata Sae, kepada Thomson Reuters Foundation dari ibu kota Pakistan, Islamabad.

Perebutan kekuasaan oleh Taliban telah memicu eksodus warga Afghanistan.

Namun penutupan perbatasan oleh Pakistan, Iran, dan negara-negara tetangga lainnya, serta sulitnya mendapatkan paspor atau visa, membuat orang untuk terpaksa membayar penyelundup.

Orang-orang itu menempuh perjalanan penuh risiko dan melelahkan dengan melewati gurun dan pegunungan.

Beberapa dari mereka menggali terowongan di bawah pagar perbatasan, sedangkan yang lainnya menggunakan identitas palsu.

Menurut Mixed Migration Centre (MMC), tarif penyelundupan di Afghanistan naik selama pandemi COVID-19, karena pembatasan perjalanan.

Namun, perjuangan untuk keluar dari negara itu sejak Agustus lalu telah membuat tarif itu melonjak.

Sae, 26 tahun, melarikan diri dari Kabul bersama ibu dan tujuh saudara kandungnya pada 25 Agustus, setelah seorang donatur asing membayar 5.000 dolar AS (sekitar Rp71,7 juta) kepada penyelundup.

Keluarga Sae berasal dari etnis Hazara, kelompok minoritas Syiah yang menjadi sasaran Taliban saat milisi itu memerintah pada 1996-2001.

Kembalinya kekuasaan Taliban membuat Sae khawatir dengan keselamatannya.

Dia tak hanya pernah membantu menjebloskan anggota Taliban ke penjara, tapi juga aktif menentang milisi itu dan vokal menyuarakan hak-hak perempuan.

Sebelum meninggalkan Kabul, ibu Sae dipasangi infus palsu. Pakistan masih mengizinkan warga Afghanistan masuk tanpa visa dengan alasan kesehatan darurat dan keluarganya mengharapkan belas kasihan dari penjaga perbatasan.

Tipuan itu berhasil, dibantu sejumlah uang yang diberikan kepada orang-orang yang tepat.

Setelah melewati perbatasan, jumlah suap yang mesti dibayar bertambah.

Empat belas pos pemeriksaan kemudian mereka lalui dengan menghabiskan 300 dolar.

Di Islamabad, Sae mengatakan pemilik rumah kontrakan mengenakan biaya sewa tiga kali lipat dari tarif setempat.

Mereka juga harus menambah 700 dolar untuk menyuap aparat keamanan –karena tinggal di negara lain tanpa visa adalah pelanggaran hukum.

Para penyelundup manusia kini mengenakan tarif sekitar 140-193 dolar pada warga Afghanistan yang ingin ke Pakistan melalui kota perbatasan Spin Boldak, naik dari 90 dolar pada tahun lalu, menurut MMC yang berbasis di Jenewa.

Perjalanan ke Iran lewat kota perbatasan Zaranj, tarifnya sekitar 360-400 dolar, naik dari 250 dolar pada tahun sebelumnya, kata MMC.

Besarnya tarif tak hanya bergantung pada lamanya waktu tempuh, tingkat kesulitan rute, kemampuan finansial, dan latar belakang orang-orang yang melakukan perjalanan, tapi juga apakah mereka punya kontak di tempat tujuan dan jumlah orang yang meminta sogokan.

Sejumlah orang Afghanistan yang diwawancarai Thomson Reuters Foundation menyebut angka yang lebih besar daripada data MMC.

Seorang perempuan mengatakan, dia membayar 1.000 dolar untuk pergi ke Islamabad dengan kedua anaknya.

Lihat juga...