Begini Cara Presiden Soeharto Jaga Stabilitas Harga Bahan Pokok

Admin

Presiden Soeharto saat acara Temu Wicara dengan Mahasiswa Peserta Kursus Manajemen Koperasi Kopindo di Tapos (29/5/1994). -Tangkapan Layar YouTube HM Soeharto

Cendana News, JAKARTA – Gejolak harga kebutuhan pokok atau sembilan bahan pokok, sembako, menandai dimulainya reformasi.

Gejolak dan kenaikan harga sejumlah bahan pokok hingga kini juga masih terjadi. Apalagi, harga minyak goreng.

Di sejumlah tempat, bahan pokok berupa minyak goreng bahkan mengalami kelangkaan dan menimbulkan antrean panjang pembeli.

Sudah beberapa minggu naiknya harga bahan pokok seperti minyak goreng itu berlangsung.

Solusinya sudah banyak, begitu pula dengan dalihnya.

Namun, faktanya kelangkaan dan mahalnya harga minyak goreng di atas HET pemerintah masih saja terjadi.

Belajar dari era terdahulu, Presiden Soeharto mampu menjaga stabilitas ketersediaan maupun harga-harga sembako.

Lantas, bagaimana Presiden Soeharto mengelola stabilitas pasokan dan harga-harga sembako?

Mengutip buku Presiden Soeharto dan Visi Kenusantaraan karya Abdul Rohman, ada tiga hal pokok yang membuat Presiden Soeharto mampu menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok.

Pertama, arsitek ekonomi Orde Baru, Prof. Wijoyo Nitisastro, menyampaikan bahwa Indonesia ketika itu menerapkan ‘mekanisme ekonomi pasar terkelola’.

Indonesia bukan negara etatisme, semua dalam kendali negara. Juga bukan negara liberal yang membebaskan semuanya atas kemauan individual.

Ketika harga-harga melambung di luar kewajaran, pemerintah mengintervensi dengan sejumlah kebijakan. Termasuk menetapkan HET.

Lihat juga...