Daerah Diminta Bersiap Hadapi Dampak Ekonomi Global

Admin

JAKARTA, Cendana News – Staf Ahli Menteri Koperasi dan UKM Bidang Produktivitas dan Daya Saing, Yulius mengatakan inflasi di Amerika Serikat (AS) yang terus mengalami peningkatan bisa berdampak ke Indonesia.

Yulius mengatakan, inflasi di AS terus meningkat. Berada di level tertinggi dalam 40 tahun dan mendorong percepatan pengetatan kebijakan moneter.

“Di antaranya tapering off, kenaikan suku bunga acuan, dan kontraksi balance sheet,” ungkap Yulius, dikutip dari laman kemenkopukm, Selasa (12/4/2022).

Selain itu, konflik Rusia dan Ukraina yang belum selesai hingga saat ini juga akan memberi dampak perekonomian.

Menurut Yulius, hal tersebut akan menyebabkan disrupsi perdagangan global akibat gangguan suplai produk-produk dari Rusia dan Ukraina.

Dia menegaskan, harga-harga komoditas yang terdampak oleh menurunnya pasokan dari Rusia dan Ukraina akan meningkat tajam.

Juga pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) global akan mengalami penurunan.

Hak itu menyebabkan ekonomi dunia berpotensi turun 2,5 persen pada tahun 2022 ini.

“hal itu akan memberikan dampak emerging countries dan developing countries, karena tingkat pendapatan yang relatif rendah,” kata Yulius.

Namun di tengah situasi tersebut, Yulius mengatakan ada dampak positif yang bagi Indonesia.

Dia mengatakan, kenaikan harga berbagai komoditas global itu berpotensi meningkatkan ekspor Indonesia.

Beberapa komoditas tersebut di antaranya energi, seperti minyak, batu bara, dan gas alam.

Sektor pertanian, yakni kopi, karet, serta CPO. Terakhir ialah logam dan mineral ialah nikel, tembaga, emas, dan alumunium.

Yulius menjelaskan, kenaikan harga energi global menambah gap harga antara harga penetapan harga energi domestik dan harga keekonomian, untuk Pertalite; Pertamax; Solar; Pertamina Dex; LPG.

Lihat juga...