Di Markas Banteng, Cak Nun Kritik Kepemimpinan Nasional Saat Ini

Editor: Koko Triarko

“Maka mulai sekarang, mulai besok, kalian harus cerdas menentukan pemimpin. Kalau dua (periode) tidak bisa (mampu), jangan sampai tiga kali,” ungkapnya.

Cak Nun yang selama ini konsisten mengkritik setiap kebijakan penguasa di semua rezim, bahkan sempat menyinggung perlunya revolusi besar untuk mengubah kondisi Indonesia menjadi lebih baik dari saat ini.

“Saya ingin, besok sebelum dan sesudah 2024, kita akan mengalami revolusi besar dari dalam diri kita. Bukan revolusi untuk menjatuhkan presiden dan penguasa,” kata Cak Nun.

Tapi, revolusi yang dipimpin presiden dan sesepuh lainnya untuk memimpin kesadaran baru. Memimpin proses mlungsungi, memimpin kelahiran kembali Indonesia yang baru.

“Saya tidak meramal. Tapi, itu sudah menjadi siklus,” ungkapnya.

Sementara itu ada jamaah yang bertanya tentang bagaimana mengatasi perpecahan yang begitu nyata mengancam persatuan dan kesatuan bangsa dan negara saat ini.

Cak Nun menjawab, bahwa hal itu lagi-lagi sangat terkait dengan persoalan kepemimpinan.

Karena itu, dia meminta semua pihak agar lebih berhati-hati dalam memilih sosok pemimpin di masa mendatang.

“Semua itu soal keteladanan dan kepemimpinan. Maka, kita harus hati-hati memilih pemimpin berikutnya,” tegasnya.

Diamati dan dirasakan betul. Karena sebenarnya cukup satu orang yang menjadi contoh, menjadi kepala ular naga. Nanti semua badan dan ekornya akan ikut, katanya.

Menurut Cak Nun, seorang pemimpin wajib memiliki kelengkapan kriteria yang tidak hanya pintar. Tapi juga baik, bijaksana, maupun kelengkapan-kelengkapan lainnya.

“Karena rakyat itu kita tidak bodoh atau tidak tahu. Tapi, kadang tidak mau tahu dan jahat satu sama lain,” katanya.

Lihat juga...