Lemhannas RI : Indonesia Posisikan Tiongkok sebagai Peluang dan Ancaman

Andi dalam hal tersebut juga mengungkapkan skenario interaksi antara Amerika Serikat terhadap Tiongkok, yaitu skenario Persaingan Damai dan Konflik Militer.

Skenario prersaingan damai bertujuan untuk mendorong negara mitra mendukung Amerika serikat di isu strategis, sementara pada skenario konflik militer bertujuan untuk mengalahkan tiongkok secara politik dan militer.

Dalam persaingan damai, keluarannya adalah tidak ada pemenang tunggal, AS terus memperoleh dukungan militer dalam berbagai dinamika strategis global, sementara dalam keluaran konflik militer kemenangan telak AS baik secara politik maupun militer.

Dalam konflik militer dari friksi yang terjadi antara AS dan Tiongkok, Indonesia mengkhawatirkan kalau friksi yang terjadi singkat. Artinya kalau friksi yang terjadi dalam waktu singkat ada gelar teknologi yang signfikan, sehingga negara-negara tersebut menjadikan one battle determined the result. Ini sesuai dengan amanat Presiden Jokowi pada HUT ke-75 tahun TNI yang mengingkatkan untuk berhati-hati dalam karakter perang yang high technology, high level destruction.

Selain hal di atas, Gubernur Lemhannas juga membahas titik terendah antara AS dan Tiongkok, adalah saat peristiwa Tiananmen (1989) dan ketika NATO dalam operasinya di bekas Yugoslavia membom kedutaan Tiongkok (1999), serta pada perang Korea pada 1951- 1953.

Trendline antara 2001 hingga 2021 bisa dilihat cenderung mendatar tidak ada perkembangan yang signifikan. Amerika Serikat dan Tiongkok terlihat cenderung mendatar.

Terdapat kecenderungan persaingan antara AS dan Tiongkok di Asia Timur. Akan tetapi kekuatan Tiongkok “Secara de facto, Tiongkok adalah negara terkuat di Asia Timur,” kata Gubernur Lemhannas.

Lihat juga...