Malam Menua di Padepokan

CERPEN HARI B. MARDIKANTORO

Dua pengikut, Gondo dan Mulya lantas saling memandang. Mata mereka berdua seakan bertutur dalam kesunyian. Tampaknya mereka sepakat untuk mengingatkan Guru.

“Mohon maaf Guru, tampaknya hujan sebentar lagi akan membasahi padepokan. Sebaiknya Guru segera lengser masuk ke dalam padepokan” tutur Gondo dengan santun.

“Betul Guru, nanti Guru sakit karena angin demikian kencang menampar-nampar” sahut Mulya. Guru masih diam. Pandangannya lurus ke depan menembus gelapnya malam. Sepi kian mengekal. Padepokan di pinggir desa terpencil itu memang sudah lama sepi, apalagi kalau malam seperti saat ini.

“Aku masih ingin berada di halaman padepokan ini. Kalau kamu ingin masuk, silakan masuk dulu” jawab Guru perlahan sambil menengok ke arah kedua pengikutnya berada.

“Tidak Guru, saya tetap akan berada di sini bersama Guru,” sahut Gondo tergagap.

“Saya juga.”

Lelaki yang disebut Guru menganggukkan kepala. Ada gurat kewibawaan yang mulai menghilang. Ia lantas menghela nafas, bahkan berkali-kali.

“Malam ini aku ingin mengenang anakku. Persis tiga tahun lalu di tempat ini, di pangkuanku, anakku memandangiku dengan penuh harap seakan minta pertolongan. Pandangannya menembus hatiku dan meninggalkan luka yang sampai kini masih belum kering.” Guru lantas diam.

Angin malam mulai mengusik dengan suaranya yang gaduh menampar pepohonan yang banyak tumbuh di sekitar padepokan. Suara burung malam terdengar sangat nyaring dalam kesunyian yang tercipta.

“Aku sudah berusaha dengan segala upaya tapi Gusti memiliki kehendak lain. Aku harus tunduk pada kehendak Gusti. Kematian hanya Dia penentunya,” ujar Guru kemudian dengan suara parau sambil tangannya menunjuk ke atas. Ada kesedihan yang mengiris malam yang kian mendekati puncaknya.

Lihat juga...