Rahasia

CERPEN MOCHAMAD BAYU ARI SASMITA

Jika diibaratkan seperti penjarahan di sebuah rumah kosong yang penuh barang-barang — meskipun tidak mewah— dan sebetulnya masih cukup layak untuk digunakan kembali.

Begitulah jika seseorang meninggal dunia, satu per satu rahasianya akan muncul ke permukaan. Rahasia itu, tentu saja, dibeberkan oleh setiap orang yang mengenal si mayat atau mengetahui tindakannya semasa dia masih hidup.

Si mayat umpama sebuah rumah kosong dan rahasia-rahasia itu adalah barang-barang layak pakai di dalamnya. Begitulah perumpamaan yang bisa kuberikan dari mencermati setiap hal yang terjadi setelah kematian Kasman, tetangga kami yang terkenal alim, baik hati, dermawan, rajin ke masjid, dan sebagainya.

Kasman, begitulah namanya sesuai E-KTP miliknya. Orang-orang juga diminta olehnya untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Haji Kasman meskipun memang dia sudah pergi ke tanah suci untuk ibadah haji, melengkapi rukun Islam yang tidak semua orang dapat melakukannya.

Kami mengenalnya sebagai seorang yang berilmu, maksudnya tahu aturan-aturan agama, dan sesekali dimintai untuk menyampaikan khotbah pada salat Jumat, kalau tidak salah setiap Jumat Kliwon.

Khotbah-khotbahnya tidak pernah berpanjang-panjang, ringkas dan berisi. Yang terpenting, dia menyampaikan isi khotbahnya itu dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam, bukan bahasa ndakik-ndakik agar dia terlihat benar-benar pintar.

Orang pintar yang sejati tidak akan memperumit sesuatu yang sebenarnya sederhana. Karena khotbah-khotbahnya yang ringkas itu—tidak sampai sepuluh menit, paling lama sekitar delapan menit—orang-orang jadi lebih bersemangat untuk pergi salat Jumat dan tidak pernah nggerundel, “Khotbahnya lama,” atau semacamnya sepanjang salat Jumat pada hari Jumat Kliwon berlangsung.

Itu baru satu hal darinya. Masih ada lagi.

Masjid di dusun kami baru saja dibuat pondasinya ketika aku masih berusia sekitar dua belas tahun. Masjid itu dibangun dengan menggunakan uang sumbangan dari para warga juga para orang yang melintasi jalan itu.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Kasman telah menggelontorkan uang dengan nominal banyak untuk pembangunan masjid tersebut, meskipun tidak benar-benar disebutkan secara jelas bahwa Kasman-lah yang memberikan sumbangan lebih banyak dari orang-orang sekitar untuk pembangunan masjid dusun tersebut.

Begitu masjid itu selesai dibangun, Kasman sering salat di sana, bahkan hampir tidak pernah absen kecuali ketika badannya meriang atau sedang pergi ke suatu tempat lain.

Sekarang, di usianya yang ke delapan puluh enam, dia telah terbaring kaku, dingin, tanpa bisa bergerak sedikit pun.

Tidak ada yang terlalu mengkhawatirkan dari penyebab kematiannya. Dia meninggal dengan tenang ketika tidur di kasurnya yang empuk, di samping istrinya yang sepuluh tahun lebih muda darinya.

Ketika istrinya yang sepuluh tahun lebih muda itu membangunkannya untuk bersiap ke masjid untuk salat subuh berjemaah, Kasman tidak bergerak sedikit pun.

Biasanya, orang yang dibangunkan akan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas atau menggeser tubuhnya sebagai bentuk penolakan, tapi tidak ada tanda-tanda semacam itu sama sekali.

Istrinya yang sepuluh tahun lebih muda memanggil anak sulungnya, kemudian anak sulungnya memanggil pamannnya di belakang rumah. Setelah pamannya, adik Kasman, mengecek kondisi tubuh Kasman, dia menggelengkan kepala.

Mereka bertiga meninggalkan Kasman tetap di kamarnya sendirian dan mereka mengerjakan salat subuh dalam kondisi sedih, dan menghubungi modin untuk datang ke rumah mereka.

Modin memeriksa Kasman sebentar dan kemudian menghubungi salah satu takmir masjid agar mengumumkan kabar duka itu melalui pengeras suara di masjid.

Sekurang-kurangnya itulah yang kudengar dari cerita orang-orang yang berkumpul di rumah Kasman untuk bertakziah.

Saat itu juga ada yang berkata dengan tiba-tiba, “Dia pergi begitu cepat. Ini tidak adil.”

“Ya,” sahut yang lain, “orang sebaik dirinya sebaiknya pergi belakangan. Biar yang jahat-jahat saja yang pergi duluan.”

“Aku tidak menganggap Kasman itu orang baik,” kata yang tadi.

“Awas kualat kau. Kasman jelas orang baik. Apa maksudmu berbicara seperti itu?”

“Dengar, dari luar dia memang tampak baik. Tapi, aku pernah melihat suatu hal yang benar-benar tidak cocok dengan citra baik yang ditampilkan Kasman selama ini.”

“Kau pasti salah lihat.”

“Dengar dulu, aku belum selesai berbicara.”

“Lanjutkan.”

“Dia pergi ke warung esek-esek.”

Lihat juga...