ADAT DIPANDANG, ADAT DIJUNJUNG

Oleh: Prof Dr. Bustami Rahman, MSc

JAKARTA, Cendana News – Jangan bermain-main dengan adat. Apalagi, dengan adat orang lain. Terlebih lagi jika adat telah diikat dengan aturan adat, tertulis maupun tidak.

Adat pada masyarakat pedalaman dan pesisir masih dipegang ketat. Bahkan cenderung diperketat seiring dengan intervensi nilai-nilai yang lebih modern. Menerobos masuk ke celah tak terjaga pada masyarakat yang masih memegang adat dimaksud.

Ada bermacam-macam  bentuk dan jenis adat. Juga ada bermacam-macam praktik adat diimplementasi dalam sikap dan perilaku.

Semuanya dipandang tinggi dan mulia oleh masyarakat yang memegang adat.

Adat pasti dijunjung tinggi dalam konteks pemegang adat. Sebab itu, adat dipandang mulia oleh pemegang adat.

Ini prafaktum yang harus dipahami, terutama bagi orang yang berada ‘di luar’ pemegang adat.

Ada kalanya adat dipandang dalam skala nilai yang sama oleh pemegang adat, dan oleh orang luar dari pemegang adat.

Namun, ada kalanya adat dipandang dalam skala lebih ‘rendah’ oleh orang di luar pemegang adat. Yang seharusnya tidak boleh demikian.

Pada kasus Ruhut Sitompul, didapati contoh yang tepat untuk memahami nilai adat ini.

Bagi oknum yang membuat meme dan bagi Ruhut yang mengunduh dan mengomentarinya, adalah para pihak di luar pemegang adat.

Lihat juga...