Menebak Arah Pendulum Dukungan Capres 2024 Bagian 4

Oleh: Abdul Rohman

JAKARTA, Cendana News – Pemilu 2014 memunculkan kuda hitam, Jokowi (Joko Widodo).

Rakyat rupanya jengah dengan elitisisme. Semua kaum elit/ningrat dianggap tidak bisa dipercaya. Keberpihakan terhadap Wong Cilik hanya jargon pemilu saja.

Saatnya dipimpin yang benar-benar dari rakyat. Mungkin begitulah pendulum aspirasi rakyat kala itu.

Jokowi dari rakyat jelata. Memimpin Kota Solo, tempat ia membuktikan keberpihakannya pada rakyat kecil.

Penataan PKL dinilai berhasil tanpa konflik. Mobnas ESEMKA walau ternyata tidak berhasil, menjawab kerinduan akan kemandirian industri otomotif nasional.

Proyek sebelumnya sudah gagal dalam wujud mobil Timor.

Maka, calon dari rakyat inilah yang terus didukung dan dieluk-elukkan rakyat.

Karir Jokowi meroket. Jalan menduduki DKI 1 pun tidak sulit. Sebagai perlawanan terhadap kaum elit/ningrat.

Jabatan itu dijalani tanpa harus menyelesaikan masa jabatannya. Terburu diminta rakyat menjadi presiden. Setidaknya begitulah narasi politiknya.

Survei-survei menyebut Jokowi sangat popular. Itu yang menyebabkan Megawati keder dan merelakan PDIP menjadi kendaraan bagi Jokowi.

Asalkan PDIP mengendalikan pemerintahan, tidak masalah Megawati tidak menjadi presiden.

Oposisi terus juga lelah. Kalah untuk yang ketiga dalam pilpres juga bukan cerita yang menarik.

Rupanya Megawati pun ditempatkan sebagai barisan elit/kaum ningrat oleh rakyat.

Ia bukan dari rakyat jelata. Ia dibesarkan dari kemegahan istana. Ayahnya menderita oleh perjuangan.

Tapi, Megawati hidup dalam kemewahan dibanding rakyat banyak. Mungkin begitu logika rakyat ketika berpihak pada Jokowi.

Reputasi Megawati yang dianggap ceroboh dalam mengelola negara dalam era pemerintahannya dahulu juga memberi kontribusi.

Dua pulau lepas, Indosat sebagai alat pertahanan bangsa juga dijual. Para penjahat BLBI malah diberi Surat Keterangan Lunas. Itu gaya kepemimpinan koboi. Membahayakan bagi bangsa.

PDIP boleh, asal Jokowi Capresnya. Kira-kira begitulah cara pikir rakyat kala itu.

Lawan Jokowi adalah Prabowo. Ia produk elit. Anak dan dibesarkan dari orang kaya. Bukan representasi rakyat banyak.

Prabowo merupakan antitesa dari keinginan rakyat.

Kali ini, presiden harus benar-benar merepresntasikan rakyat. Bukan sebatas jargon pro rakyat yang nyatanya bermain untuk kaumnya sendiri. Kaum ningrat/konglomerat.

Kelemahan lain dari Prabowo adalah dilekati kaum puritan sebagai pendukung garis depan.

Di antara kaum puritan ini terdapat elemen yang disinyalir wahabi. Sementara sisiran terbesar muslim Indonesia antitesa dari wahabi.

Lihat juga...