Petani Tidak Ikut Menikmati Kenaikan Harga Cabai dan Tomat di Lamsel

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG, Cendana News – Petani di Lampung Selatan tidak ikut menikmati keuntungan dari naiknya harga cabai dan tomat.

Eko Prapto, petani cabai di Desa-Kecamatan Bakauheni, menyebut harga cabai dan tomat di tingkat petani masih stabil.

Menurut Eko Prapto, naiknya harga cabai dan tomat terjadi di level distributor dan pedagang.

Dia mengatakan, naiknya harga cabai terjadi sebagai dampak cuaca hujan.

Masih seringnya terjadi huajan itu membuat cabai rentan busuk, sehingga risiko distribusi ke pasar lebih besar.

“Petani tetap saja belum bisa menikmati kenaikan harga, sebab harga jual masih tetap,” kata terang Eko Prapto, Jumat (10/6/2022).

Nurhadi, petani lain di Desa Sumur, Ketapang, juga mengakui hal yang sama.
Menurutnya, harga cabai keriting besar di tingkat petani sebesar Rp25.000 per kilogram.

Karenanya, kenaikan harga cabai yang terjadi di sejumlah pasar tidak berdampak ke petani.

Apalagi biaya operasional budidaya mulai dari penyiapan lahan, benih, obat hingga pascapanen, sudah cukup tinggi.

“Standar harga juga sudah ditetapkan pengepul, kalau dari petani menaikkan harga justru sulit melempar ke pasar,” kata Nurhadi.

Namun demikian, Nurhadi menilai kenaikan harga cabai dan tomat itu cukup wajar.

Pasalnya, memasuki akhir bulan Mei dan awal Juni cuaca kerap hujan.

Sehingga komoditas cabai dan tomat rentan busuk saat berada di pohon, pascapanen, dan proses distribusi hingga ke pasar.

Pantauan Cendana News di sejumlah pasar tradisional di Lampung Selatan, harga cabai berkisar Rp50.000-Rp70.000 per kilogram.

Salah satu pedagang di Pasar Pasir Gintung, Tanjung Karang Pusat, Susanti mengatakan rata-rata kenaikan harga Rp10.000 per kg.

Lihat juga...