Toleransi, Kata yang Sedang Laris Diwacanakan

Oleh: Prof Dr Bustami Rahman, MSc

JAKARTA, Cendana News – Sekarang, kata ini (toleransi) laris diwacanakan.

Kata ini juga kerap digunakan untuk menyindir, bahkan menjustifikasi secara sosial, budaya, politik, dan hukum.

Jika Anda sedang menganggap diri Anda benar, dan orang lain menganggap Anda salah, Anda akan bilang orang itu tidak toleran.

Mungkin saja Anda benar dari sisi norma hukum. Namun, dari sisi norma sosial budayanya orang lain mungkin dianggap tidak benar.

Jika Anda teruskan dan memaksa ‘kebenaran’ Anda itu, orang lain akan terjejas secara sosial budaya.

Dengan lantang Anda meneriakkan, bahwa orang yang merasa terjejas itu sebagai tidak toleran.

Harapan saya, semoga Anda yang mengatakan itu sedang tidak sadar atau sekurangnya Anda tidak sengaja melakukannya.

Ibaratnya sama dengan kejadian berikut. Anda tidak sadar atau tidak sengaja menginjak jari kaki orang lain.

Orang yang terinjak kakinya itu lantas berteriak ‘aduh’ dan cepat menarik kakinya.

Orang itu mungkin kesakitan dan menampakkan wajah kurang senang dengan perlakuan Anda.

Apakah ketidaksenangan orang itu Anda anggap sebagai tidak toleran?

Tepatkah jika karena itu Anda injak saja lagi kaki orang itu? Ataukah sebaliknya, Anda minta maaf karena tidak sengaja telah menginjak jari kakinya?

Dan, lain kali lebih berhati-hati untuk tidak terulang lagi?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, toleransi adalah sikap toleran yang maknanya menenggang rasa, menghargai, membiarkan pendirian (pendapat, keyakinan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya).

Secara sosiologis tidak akan ada toleransi diterima jika tidak melibatkan hubungan perasaan dua atau lebih pihak yang berhubungan sosial.

Lihat juga...