Kriteria Pemimpin yang Baik Menurut Alquran 2

Oleh: Abdul Rohman

JAKARTA, Cendana News – Pemimpin yang baik dalam Alquran setidaknya memiliki 4 karakter.

Pada bagian pertama tulisan ini, telah dipaparkan karakter pertama seorang pemimpin adalah Memiliki Komitmen Mewujudkan Peradaban ber-Tuhan.

Kemudian, berikutnya adalah:

  1. Memiliki Kesalehan Personal

Syarat berikutnya dari kategori pemimpin yang baik adalah sebagaimana termaktub dalam QS Almaidah (5): 55. Surat tersebut menyatakan:

“Sesungguhnya penolongmu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang menegakkan salat dan menunaikan zakat seraya tunduk (kepada Allah).”

Ayat ini menekankan perlunya kesalehan personal. Selain memiliki visi untuk mewujudkan peradaban ber-Tuhan (sebagaimana poin 1), maka sosok pemimpin yang baik adalah yang memiliki kualitas kesalehan personal yang lebih baik.

  1. Memiliki Kecakapan Teknis

Hadits-hadist berikut menekankan kecakapan teknis bagi sosok pemimpin.

Mereka harus memiliki skill yang memadai untuk memanggul sebuah kepempinan.

Hadist berikut menekankan untuk menjalankan sebuah urusan, Islam tidak mengenal diskriminaasi.

Siapapun dia, walaupun seorang budak, jika memenui syarat utuk memimpin dan dipilih, maka ia harus ditaati.

“Dengarlah dan taatilah sekalipun yang dijadikan pemimpin untuk kalian adalah seorang budak Habasyi, seolah-olah kepalanya seperti kismis”. (Hadits Sahih Riwayat al-Bukhari: 6609).

Sedangkan hadits-hadits berikut menekankan pendelegasian atau penyerahakan suatu urusan kepada ahlinya.

“Dari Anas, bahwa Nabi SAW pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma, lalu beliau bersabda: “Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik.”

Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak.

Hingga suatu saat, Nabi SAW melewati mereka lagi dan melihat hal itu, beliau bertanya: “Ada apa dengan pohon kurma kalian?’ Mereka menjawab; ‘Bukankah anda telah mengatakan hal ini dan hal itu?’ Beliau lalu bersabda: ‘Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.’ (HR Muslim: 4358)”.

“Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘Bagaimana maksud amanat disia-siakan?”

Nabi menjawab; ‘Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.’ (HR Bukhari).”

“Barangsiapa yang memegang kuasa tentang sesuatu urusan kaum muslimin, lalu dia memberikan suatu tugas kepada seseorang, sedangkan dia mengetahui bahwa ada orang yang lebih baik daripada orang itu, dia telah mengkhianati Allah, RasulNya dan kaum muslimin.” (Hadis Riwayat Al-Hakim).

Penjelasan-penjelasan hadits di atas bisa ditarik pengertian, bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki kompetensi teknis untuk menjalankan suatu urusan publik.

Ia harus memiliki wawasan luas, memiliki keterampian politik, leadership dan keterampilan pendukung untuk terwujudnya kualitas urusan publik yang baik.

Ukurannya pada kecapakan dan bukan diskriminatif oleh alasan-alasan primordial.

  1. Mampu Bertanggung Jawab di Hadapan Tuhan dan Kemanusiaan

Kriteria pemimpin yang baik berikutnya adalah pemimpin yang diyakini bisa dipercaya mampu bertanggung jawab di hadapan Tuhan dan kemanusiaan.

QS: Al Ahzab (33): 66-68 menyatakan:

Lihat juga...