Pendidikan ke-Islaman Perlu Disertai Perspektif Kebangsaan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA, Cendana News — Pendidikan ke-Islaman yang kuat tanpa disertai dengan perspektif paham kebangsaan, dinilai akan berpotensi memunculkan ‘Two Politically Oriented’ atau agama sebagai alat politik.

Hal semacam ini dinilai sangat berbahaya karena dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kelompok/golongan tertentu. Serta dapat memunculkan politik identitas di tengah masyarakat.

“Padahal agama itu kompleks. Kalau agama jadi tujuan politik bahaya. Karena pasti masing-masing pasti punya kepentingan,” ungkap Pimpinan Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, Bantul, Benny Susanto, SAg Msi, belum lama ini.

Karena itu, Benny yang merupakan Wakil Katib Syuriah PWNU DIY, menilai pentingnya mendorong para tokoh agama untuk mempersiapkan masyarakat, agar tidak mudah terombang ambingkan dengan penggunaan ‘Two Politically Oriented’ semacam ini.

“Jangan sampai masyarakat diombang-ambingkan untuk kepentingan jangka pendek. Sebab agama tidak boleh menjadi sumber permasalahan, tapi harus jadi solusi,” katanya saat ditemui di Ponpes Sunan Kalijaga, di dusun Gesikan RT 5 Panggungharjo Sewon Bantul.

Atas dasar itulah Pondok Pesantren maupun lembaga pendidikan lainnya mestinya dapat mengajarkan setiap santri/anak-didiknya dengan pendidikan terpadu. Baik itu terkait ke-Islaman maupun kebangsaan.

“Jangan sampai pendidikan ke-Islaman dominan, namun pendidikan ke-indonesiaan-nya justru ditinggalkan. Nanti akan jadi timpang. Karena bagaimanapun kecintaan terhadap tanah air itu merupakan bagian dari iman,” imbuhnya.

Meski terbilang sebagai Pondok Pesantren kecil di tengah desa, Ponpes Sunan Kalijaga sendiri selama ini selalu mengajarkan setiap santrinya dengan pendidikan secara menyeluruh.

Lihat juga...