Catatan Penting SILATNAS PPAD 2022 –Bagian 1

Oleh: Brigjen TNI Purn Drs Aziz Ahmadi, MSc

JAKARTA, Cendana News – Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat, disingkat PPAD. Anak kandung dari reformasi yang lahir pada tanggal 6 Agustus 2003.

Kelahirannya, diprakarsai dan dibidani oleh 7 Pati reformis Angkatan Darat.

Mereka adalah Letjen TNI Purn Soeryadi, Letjen TNI Purn Haryoto PS,  Letjen TNI Purn Kiki Syahnakri, Letjen TNI Purn Sugiono.

Kemudian, Mayjen TNI Purn Soetoyo NK, Mayjen TNI Purn A Yudhono, dan Brigjen TNI Purn Suko Martono.

Tahun ini, PPAD memasuki usia 19 tahun. Di hari ulang tahunnya kali ini, PPAD mensyukurinya dengan melaksanakan Silaturrahmi Nasional (Silatnas).

Hanya saja karena alasan tekhnis, peringatan HUT dan  Silatnas, dilaksanakan satu hari lebih cepat pada Jumat 5 Agustus 2022 di Sentul International Convention Centre (SICC), Bogor, Jawa Barat.

Bagi PPAD, Silatnas ini kali pertama dilaksanakan. Merupakan gebrakan Jenderal Doni Monardo sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) PPAD yang baru.

Sebagai sebuah gebrakan, Silatnas yang diinisiasi oleh Jenderal Doni bersama segenap PP PPAD ini sangat berhasil, baik secara fisik, dan spirit, maupun secara tematik.

Aspek Fisik

Secara fisik, pelaksanaan Silatnas dapat dibaca secara gamblang, di mana diselenggarakan, siapa dan berapa yang hadir, serta agenda kegiatan yang diusungnya.

Untuk itu, dua kata cukup mewakilinya. Fenomenal dan spektakuler.

Betapa tidak. Silatnas diselenggarakan di salah satu dari sedikit tempat termegah dan termewah di Indonesia. Sentul International Convention Centre/SICC, yang memiliki luas, 22.000 meterpersegi.

Merupakan salah satu venue mewah yang dapat menampung hingga 12 ribu orang.

Belum lagi jabaran anatomis dari yang hadir. Baik jumlah dan kapasitas masing-masing personalnya.

Hampir 10.000 anggota PPAD hadir, mulai dari Purnawirawan Kopral sampai Purnawirawan Jenderal.

Mulai dari purnawirawan yang berhasil menjadi pengusaha lokal, nasional dan multinasional, hingga yang berhasil mencapai pangkat dan jabatan tertinggi di Angkatan Darat.

Nyaris semua Mantan Kasad yang masih ada alhamdulillah dapat hadir membersamai mantan prajuritnya.

Selain itu, juga pejabat tingkat Kodam/Kotama, Mabes AD, dan Kasad, sampai sejumlah menteri, dan tentu saja presiden yang meresmikan Silatnas tersebut.

Singkat cerita, betapa fenomenal dan spektakulernya Silatnas PPAD tersebut dibuktikan dengan kehadiran Jaya Suprana di SICC pada siang harinya.

Pemrakarsa berdirinya Museum Rekor Indonesia yang sekarang dikenal dengan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) pada 27 Januari 1990, hadir untuk menyerahkan Piagam Penghargaan Rekor MURI atas Pelaksanaan Silatnas terbesar sepanjang masa kepada Ketua Umum PPAD, Letjen TNI Purn Doni Monardo.

Aspek Spirit

Sebagaimana ditekankan oleh Ketum PPAD Jenderal Doni, Silatnas ini dihajatkan dan dipresentasikan untuk merawat organisasi.

Pertanyaannya, kenapa organisasi PPAD mesti dirawat? Apakah selama ini PPAD sakit? Apakah PPAD terlantar? Apakah PPAD gagal mengarungi pasang-surut perjuangan?

“Sejuta jawaban dan analisis dapat diberikan seperti halnya sejuta pertanyaan dapat dimunculkan”.

Namun yang pasti kemegahan atau keberhasilan secara fisik dari Silatnas itu juga diimbangi, bahkan lebih fenomenal lagi, kemegahan dan keberhasilan secara spiritual.

Pertama, Silatnas PPAD berhasil menjadi wahana untuk memelihara momentum dan menjaga elan vital perjuangan PPAD.

Melalui Silatnas ini, sebagaimana Jenderal Douglas Mac Arthur, Jenderal Doni menyeru kembali kepada seluruh keluarga besar PPAD. “I came through and I shall return”, dan “the old soldier never die, they just fade away”.

Kedua, Silatnas mampu merajut kembali kecintaan dan kebanggaan terhadap organisasi.

Jujur harus diakui, selama ini PPAD tidak cukup menarik sebagai pilihan utama, atau sebagai fade away (jalan mlipir) untuk membangun second career, guna membulatkan sebuah pengabdian.

Namun berkat Silatnas PPAD, telah memancarkan keceriaan dan kecerahan kembali anggota PPAD.

Semoga fenomena ini bukan uforia sesaat, tapi menjadi percik api spirit untuk berbenah dan tidak pernah merasa menjadi laskar yang sudah afkir tak lagi berguna.

Lihat juga...