20-9-1977 Presiden Soeharto instruksikan pembentukan Tata Niaga Garam

SELASA 20 SEPTEMBER 1977 Presiden Soeharto menginstruksikan pembentukan tata niaga garam rakyat dengan menetapkan harga terendah (floor price) dan harga tertinggi (ceiling price).

Hal ini sama juga dengan tata niaga beras/gabah yang telah dilakukan Bulog. Masalah ini dibicarakan dalam sidang Dewan Stabilisasi Ekonomi Nasional di Bina Graha hari ini.

Kepada sidang tersebut Presiden Soeharto menjelaskan bahwa tataniaga itu perlu digariskan, sehingga bila ada gejala harga garam akan turun dibawah harga terendah, maka PN Garam harus melakukan pembelian dari rakyat produsen. Sebaliknya jika harga garam cenderung naik di atas harga tertinggi, PN garam melakukan penjualan di pasar-pasar.

Di samping itu, sidang juga telah membahas realisasi pembentukan team koordinasi peningkatan ekspor ke Timur Tengah berdasarkan Keputusan Presiden No. 36/1977. Team ini bersifat interdepartemental dan diketuai oleh Menteri Perdagangan. Sedangkan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi sebagai ketua pengganti. Ketua team bertanggungjawab kepada Presiden.

Menyangkut hal ini, Presiden telah memberikan petunjuk tentang kegiatan yang perlu dilakukan oleh team. Antara lain ialah mengadakan inventarisasi proyek proyek pembangunan yang memberi kemungkinan dapat dilaksanakan oleh kontraktor kontraktor Indonesia. Merencanakan pengiriman tenaga kerja dengan melalui pendidikan dan latihan yang diperlukan serta menjamin kondisi yang wajar bagi tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Demikianlah antara lain pengarahan Presiden Soeharto.

[1] Dikutip dari buku “Jejak Langkah Pak Harto 27 Maret 1973-23 Maret 1978”, hal 538-539. Buku ini ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta, Tahun 2003.

Lihat juga...