Presiden Soeharto pernah ingatkan bahaya ancaman dari dalam negeri sendiri

Dalam surat kabar Suara Karya yang terbit pada (03/02/1992), Presiden Soeharto mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai terhadap ancaman yang mungkin muncul dari dalam negeri sendiri, karena datangnya gangguan dari negara lain telah berkurang terutama akibat perubahan politik di berbagai negara.

“Yang paling berbahaya sekarang adalah ancaman dari dalam negeri sendiri,” kata Kepala Negara di Tapos, Bogor, Minggu, ketika menerima para pemuda peserta Penataran Kewaspadaan Nasional (Tarpadnas). Para pemuda ini diantar Menpora Akbar Tandjung.

Ancaman yang datang dari dalam negeri sendiri bisa muncul pada bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, serta pertahanan dan keamanan, kata Presiden Soeharto.

Kepala Negara mengatakan, pada masa lalu, ancaman terhadap pembangunan bisa muncul dari dalam negeri sendiri serta dari luar negeri. Presiden mencontohkan, negara komunis dahulu berusaha memperluas ajaran mereka ke negara lain.

Perubahan yang terjadi di Uni Soviet, kata Presiden, mengakibatkan semakin berkurangnya kemungkinan penyebaran ajaran komunis ke berbagai negara termasuk Indonesia.

Ketika memberikan contoh tentang bahaya yang muncul dari Indonesia sendiri, Presiden menyebut munculnya pemikiran dari beberapa pihak untuk mengajukan berbagai konsep yang menggantikan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

”Orang yang kurang mengerti dan memahami Pancasila dan UUD 1945 mungkin akan mencari alternatif karena mereka menyalahkan Pancasila dan UUD 45,” kata Presiden kepada para pemuda yang datang dari seluruh provinsi itu.

Kepala Negara mengingatkan, kalau orang ingin mendesakkan keinginan untuk menerapkan ideologi lain itu dibiarkan saja, maka hal itu merupakan ancaman terhadap keselamatan bangsa dan negara.

Lihat juga...