‘Rasa’ Islam dalam Politik

Oleh: Bustami Rachman

Hasil penelitian saya itu memperoleh pengakuan Prof Geertz sebagai perolehan data yang lebih rinci. Mampu mengungkapkan diferensiasi tiap kategori dan mampu menangkap ‘rasa’ kaum Abangan dan kaum Santri.

Saya hanya ingin mengungkapkan apa yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang Abangan terhadap saudara-saudaranya yang Santri itu. Karena hal ini yang mungkin membuat rasa yang tidak cocok, sehingga Islam dan Politik kurang berjodoh.

Orang Jawa sulit untuk berterus terang. Mereka diajari turun temurun untuk tidak mengumbar rasa. Mereka diajari untuk sabar, eling, dan waspada. Mereka juga mendalami rasa tepasalira dan andap asor.

Dengan penelitian yang cukup lama di lapangan dan dengan teknik berhati-hati sebagaimana yang diajari oleh guru-guru saya itu, rasa sosial dan budaya dapat sedikit diungkap.

Beberapa yang terkait dengan judul di atas adalah, sebagai berikut:

  1. Orang Islam Abangan (orang Abangan) merasa risih dengan simbol yang kearab-araban. Termasuk, antara lain pakaian, penggunaan simbol, kata dan istilah dalam bahasa Arab.
  2. Orang Jawa (dalam hal ini juga orang Abangan) merasa lebih awal hidup di Pulau Jawa. Dengan itu, menurut mereka budaya Jawa lebih dulu unggul.
  3. Orang Abangan merasa agama Islam yang dianggap ke arab-araban itu telah berkembang sedemikian rupa sehingga ada kekhawatiran mengungguli budaya Jawa.
  4. Orang Abangan merasa ‘ribet’ dengan syariat Islam. Terasa memberatkan hidup sehari-hari.
  5. Orang Abangan merasa perilaku mereka sehari-hari dan adat leluhur adalah syariat. Sehingga tidak memerlukan tambahan yang lain.

Dengan contoh ‘rasa’ orang Abangan yang notabene orang Islam itu, dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Dalam hidup sehari-hari, tidak terjadi distorsi atau ketegangan antara orang Santri dan orang Abangan. Karena orang Jawa terbiasa dan terlatih untuk hidup harmoni.
  2. Dalam pilihan politik, distorsi akan terjadi. Karena kekhawatiran orang Abangan itu terakumulasi melalui partai politik.
  3. ‘Rasa’ Islam yang berbeda ini terus dimanfaatkan oleh pihak yang phobia terhadap Islam.
  4. Terpilahnya ‘rasa’ Islam ini akan terus-menerus mengkotakkan orang Santri di dalam Partai minoritas, dan mengkotakkan orang Abangan dalam Partai nasionalis yang lebih mayoritas.
  5. Itulah sebab mengapa orang Islam yang ‘mayoritas’ (dalam statistik) selama ini tidak pernah diwakili oleh orang santri. Orang Santri selalu berada dalam posisi underdog.
  6. Tulisan ini tidak membuat rekomendasi politik. Namun, dapat menjadi isyarat politik dan bacaan politik bagi kalangan Islam nasionalis ke depan.

Salam,

Lihat juga...