2 Oktober 1965 [I], surat Pak Harto kepada Bung Karno

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Dalam situasi yang penuh ketidakpastian saat itu, terjadi dua kali ketidaksesuaian antara Presiden Soekarno dengan Mayor Jenderal Soeharto. Pertama, mengumumkan melalui RRI malam hari sebagai pimpinan sementara Angkatan Darat padahal siang harinya Presiden Soekarno sudah mengumumkan bahwa pimpinan Angkatan Darat langsung ditangan Presiden. Kedua, tidak memperkenankan dua jenderal Angkatan Darat datang ke Halim memenuhi panggilan Presiden Soekarno.

Atas dua kali ketidaksesuaian tersebut, bisa saja Presiden Soekarno menganggap Mayor Jenderal Soeharto melakukan tindakan insubordinansi karena itu dapat menghukumnya bahkan sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Pemimpin Besar Revolusi, Presiden Soekarno dapat memecat Mayor Jenderal Soeharto.

Pak Harto sudah mengenal Bung Karno sejak perang kemerdekaan—sejak pemerintahan Republik Indonesia hijrah ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946—saat itu Pak Harto berpangkat Letnan Kolonel sebagai Komandan Resimen III, penguasa militer di Yogyakarta.

Karena hubungan yang sudah berlangsung lama maka Presiden Soekarno sangat mengenal Jenderal Soeharto. Sangat mungkin hal tersebut yang menjadi pertimbangan Presiden Soekarno tidak memberi sanksi kepada Mayor Jenderal Soeharto. Dan dalam keadaan negara sedang kritis Presiden butuh Jenderal yang loyal padanya dan didukung jenderal-jenderal Angkatan Darat.

Dan juga sangat mungkin menjadi pertimbangan adalah surat yang dikirim pagi itu, yang ditulis dengan kalimat santun serta sarat ungkapan Jawa, sangat jelas menunjukkan rasa hormat yang takzim pada Bung Karno.

Pada hari-hari kritis di mana eksistensi Republik Indonesia menjadi taruhan, Mayor Jenderal Soeharto bertindak menyelamatkan Republik Indonesia dari kudeta Gerakan 30 September yang ingin menjadikan negara ini menjadi negara komunis, namun tindakan itu dengan selalu menjauhkan pertumpahan darah.

Lihat juga...