2 Oktober 1965 [I], surat Pak Harto kepada Bung Karno

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Njuwun dawuh lan njadong deduko bila saya bertindak lantjang. Sesuai tradisi Jawa, Pak Harto menempatkan dirinya sebagai anak yang melapor kepada orang tuanya, Bung Karno; “Ananda Njuwun Dawuh”.

Dualisme pimpinan Angkatan Darat

Tanggal 2 Oktober, saat makan pagi di markas darurat Kostrad di Senayan, Mayor Jenderal Soeharto memperlihatkan kepada Jenderal AH Nasution koran sore Warta Bhakti edisi tanggal 1 Oktober 1965. Koran itu memuat berita order Presiden no 1 tentang peng-ambilalihan Pimpinan Angkatan Darat langsung berada di tangan Presiden Soekarno, dan menetapkan Mayor Jenderal Pranoto Reksosamudro sebagai pelaksana tugas harian pimpinan Angkatan Darat.

Dalam buku Memenuhi Panggilan Tugas jilid 6 [1],  AH Nasution menuliskan; Berita ini tentu juga dibaca oleh pejabat-pejabat sipil dan para panglima/komandan satuan-satuan militer, yang akibatnya akan menimbulkan masalah bagi Mayor Jenderal Soeharto, yang pada malam hari kemarin melalui RRI mengumumkan mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Diperhitungkan akan ada yang meragukan atau tidak mengakui posisi Mayor Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Panglima Angkatan Darat.

Karena itu sangat sulit bagi Jenderal Soeharto mempertahankan posisinya karena dapat ditafsirkan seakan-akan ia ambisius menjadi pimpinan Angkatan Darat.

Padahal Jenderal AH Nasution pada saat bertemu dengan Mayor Jenderal Pranoto Reksosamudro tadi malam di Kostrad telah memberi tekanan kepada Pranoto agar dia menangguhkan order Presiden karena Mayor Jenderal Soeharto sedang memimpin operasi. Saran Nasution tidak dijawab oleh Pranota.

Menurut AH Nasution, posisi Mayor Jenderal Soeharto sebagai pimpinan sementara Angkatan Darat menjadi sangat penting setelah enam jenderal di Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) dibunuh oleh gerombolan G30S/PKI. Tanpa Mayor Jenderal Soeharto memiliki posisi dalam struktur pimpinan Angkatan Darat maka ia tidak bisa berbuat apa-apa, tidak memiliki akses komando kepada prajurit-prajurit Angkatan Darat, dan kudeta G30S akan berjalan sesuai dengan rencana mereka.

Lihat juga...