2 Oktober 1965 [II], Kolonel Sarwo Edhie ke Bogor

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Siapa yang memberi perintah?”

 

Sarwo Edhie bertemu Presiden Soekarno

Tiba di Istana Bogor, Sarwo menunggu di satu ruang di istana karena Presiden Soekarno sedang menerima Panglima Siliwangi Mayor Jenderal Ibrahim. Adjie. Saat gilirannya bertemu Presiden Soekarno, Sarwo Edhie melaporkan bahwa Batalyon 454 tidak akan ke meninggalkan Halim kecuali perintah langsung dari Presiden. Apa yang disampaikan Sarwo dipenuhi oleh Presiden dan akan memerintahkan Brigadir Jenderal Soepardjo untuk menarik Batalyon 454.

Pertemuan Sarwo Edhie dengan Presiden Soekarno ditulis oleh AH Nasution dimemoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas—Masa Kebangkitan Orde Baru; Seterusnya Kolonel Sarwo Edhie menanyakan kepada Presiden bagaimana hierarkinya? Mengapa perintah diberikan kepada Brigadir Jenderal Soepardjo?

Presiden mengatakan bahwa hierarki itu bukan soal, karena Brigadir Jenderal Soepardjo adalah komandan dari seluruh pasukan yang ada di Halim.

Selanjutnya dikeluarkan surat perintah Presiden kepada Brigadir Jenderal Soepardjo untuk menarik Batalyon 454 dari Halim. Aslinya surat perintah tersebut diberikan kepada Laksamana Muda Udara Sri Mulyono Herlambang, sedangkan Kolonel Sarwo Edhie diberi tembusannya.

Selanjutnya Sarwo Edhie menanyakan kepada Presiden Soekarno tentang nasib para jenderal Angkatan Darat, yang mendapat jawaban singkat; “Soal itu adalah biasa dalam satu revolusi”.

Pengalaman di Bogor itu membuat Kolonel Sarwo Edhie kecewa. Ucapan Presiden Soekarno sangat menusuk hatinya. Sarwo Edhie adalah kawan bermain Ahmad Yani sejak masih anak-anak di Purworejo. Mereka sama-sama mengikuti pendidikan militer PETA di Bogor saat pendudukan Jepang, bahkan tinggal satu kamar selama pendidikan. Kok terbunuhnya Ahmad Yani disebut: “biasa dalam satu revolusi?! [2]

Lihat juga...