2 Oktober 1965 [III], Mayor Jenderal Soeharto ke Bogor  

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

 

Diberi tugas memulihkan keamanan dan ketertiban

Diam sejenak. Tetapi lalu saya sambung lagi;  “Saat ini, karena Bapak Presiden telah mengangkat Jenderal Pranoto sebagai pelaksana harian, dan supaya jangan menimbulkan dualisme pimpinan dalam Angkatan Darat, saya serahkan tanggungjawab keamanan dan ketertiban umum pada pejabat baru.”

Segera Presiden bereaksi; “Jangan. Bukan maksud saya begitu. Harto tetap bertanggungjawab mengenai keamanan dan ketertiban.”

Saya balik bertanya; “Lantas, dasar saya apa? Dengan tertulis Bapak telah mengangkat Mayor Jenderal Pranoto dan harus ditaati.” Saya bernafas sebentar untuk mengedalikan emosi;  “Orang bisa mengira, saya ini tidak tahu diri, ambisius dan tidak patuh. Kan repot, Pak.”

Semua diam sebentar. Tetapi lalu Presiden bertanya; “Lantas bagaimana caranya?”

“Satu-satu cara ialah dengan pidato radio kepada rakyat bahwa saya diberi tugas bertanggung jawab mengenai pemulihan keamanan dan ketertiban oleh Bapak Presiden”. Saya tegaskan;  “Saya merasa bertanggung jawab.”

“Mana Sabur, panggil kemari”. Kata Presiden Sukarno menanggapi ucapan saya.

“Sabur”, kata Presiden Soekarno kepada Komandan Tjakrabirawa itu;  “Kamu siapkan pidato saya. Jelaskan, bahwa saya memberi tugas kepada Mayor Jenderal Soeharto. Mayor Jenderal Soeharto bertanggung jawab mengenai pemulihan keamanan dan ketertiban di samping Mayor Jenderal Pranoto sebagai pelaksana harian pimpinan Angkatan Darat. Siarkan itu segera  melalui RRI.”

Pertemuan di Istana Bogor dihadiri Panglima Angkatan Laut Laksamana Madya RE Martadinata, Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dhani, Panglima Angkatan Kepolisian Letnan Jenderal Sutjipto Judodihardjo, Mayor Jenderal Pranoto Reksosamudro, Mayor Jenderal Ibrahim Adjie, Mayor Jenderal Mursyid, Komodor Leo Watimena.

Lihat juga...