2 Oktober 1965 [IV], Pertemuan paling kritis

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Menurut Omar Dhani, diawal pertemuan Presiden melampiaskan kemarahan kepada Mayor Jenderal Soeharto hingga kembali menyebutnya sebagai Oppsir Koppig. Pertama kali Bung Karno menyebut Pak Harto sebagai Oppsir Koppig  pada bulan Juli 1946.  Adapun tiga hal penyebab kemarahan Presiden adalah;

Pertama: Tidak memperkenankan Mayor Jenderal Umar dan Mayor Jenderal Pranoto datang ke Halim memenuhi panggilan Presiden Soekarno.

Kedua: Tetap mengumumkan sebagai pimpinan Angkatan Darat di RRI malam hari padahal siang hari sudah diumumkan pimpinan Angkatan Darat dipegang langsung oleh Presiden Soekarno.

Ketiga: Menyerang Halim sementara Presiden Soekarno berada di Halim.

Ketiga hal tersebut dijelaskan oleh Mayor Jenderal Soeharto;

Pertama, tidak memperkenankan Mayor Jenderal Umar Wirahadikusuma dan Mayor Jenderal Pranoto Reksosamudro memenuhi panggilan Presiden ke Halim karena saat itu tidak diketahui, apakah Presiden Soekarno dalam keadaan bebas atau tersandera oleh gerombolan oleh Gerakan 30 September. Fakta hari itu Angkatan Darat telah kehilangan enam jenderal dan mengkhawatirkan akan kehilangan jenderal kembali.

Kedua, mengambil alih pimpinan Angkatan Darat  berdasarkan standing order di Angkatan Darat jika Letnan Jenderal A Yani  berhalangan maka yang menggantikan Mayor Jenderal Soeharto.

Ketiga, Halim yang dijadikan basis oleh Gerakan 30 September diserang setelah mendapat kepastian berdasarkan laporan dari ajudan presiden Kolonel KKO Bambang Wijanarko melalui telepon bahwa Presiden Soekarno sudah berada di Istana Bogor.

Setelah menyampaikan tiga argumen di atas, Mayor Jenderal Soeharto mengatakan; Karena Bapak Presiden sudah menetapkan pimpinan harian Angkatan Darat, maka ia menyerahkan masalah keamanan dan ketertiban kepada pejabat yang ditunjuk.

Lihat juga...