2 Oktober 1965 [IV], Pertemuan paling kritis

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Karena itu, untuk memulihkan keamanan dan ketertiban pasca kudeta G30S/PKI, Presiden Soekarno  harus memilih perwira yang dapat diterima oleh slagorde Angkatan Darat—dan dipastikan loyal pada Presiden.

Diantara jenderal-jenderal Angkatan Darat yang tersisa (yang tidak dibunuh oleh G30S/PKI) antara lain; Mayor Jenderal Umar Wirahadikusuma, Mayor Jenderal Soeharto, Mayor Jenderal Mursyid, Mayor Jenderal Basuki Rahmat, Mayor Jenderal Ibrahim Adjie, Mayor Jenderal Jamin Ginting—maka Presiden Soekarno menunjuk Mayor Jenderal Soeharto untuk memulihkan kembali keamanan dan ketertiban pasca kudeta berdarah G30S/PKI.

Sangat patut menjadi pertimbangan adalah; Presiden Soekarno sudah mengenal Soeharto sejak lama. Sejak pemerintahan hijrah ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946.  Saat itu Soeharto sebagai penguasa militer di Yogyakarta, sebagai Komandan Resimen III dengan pangkat Letnan Kolonel.  Selain perkenalan yang sudah berlangsung lama, ada beberapa irisan atau persentuhan antara  keduanya yang tentu hal ini sangat mungkin menjadi pertimbangan Presiden Soekarno.

 

Bersambung

Lihat juga...