2 Oktober 1965 [V], Persentuhan Bung Karno dengan Pak Harto

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Irisan berikutnya saat Kolonel Soeharto menjadi Panglima Tentara Teritorium (TT) IV Diponegro. Dalam kunjungan Presiden ke Semarang, Kolonel Soeharto  melaporkan tentang Partai Komunis Indonesia yang semakin dominan di Jawa Tengah, dan menanyakan kepada Presiden, apakah hal itu tidak membahayakan Pancasila?  “Harto, kamu tentara. Masalah politik itu urusan Bapak”, jawab Presiden Soekarno. Tentu menjadi catatan bagi Presiden Soekarno mengenai pertanyaan itu, yaitu seorang tentara yang mewaspadai gejolak politik di daerahnya.

Irisan yang sulit dilupakan oleh Presiden Soekarno adalah saat Mayor Jenderal Soeharto sebagai Panglima Mandala diminta menenggelamkan Kapal Belanda, membalas serangan Belanda yang menenggelamkan  MBT Macan Tutul dan menewaskan Komodor Yos Sudarso, pada 15 Januari 1962. Sulit dilupakan karena permintaan menenggelamkan kapal itu dilakukan dalam sidang kabinet.

Dalam sidang kabinet, Mohammad Yamin meminta Mayor Jenderal Soeharto membalas penenggelaman MBT Macan Tutul yang menewaskan Komodor Yos Sudarso dengan menenggelamkan kapal Belanda. Permintaan Yamin didukung oleh anggota kabinet yang lain termasuk Presiden Soekarno.

Permintaan itu ditolak oleh Mayor Jenderal Soeharto. Disebutkan bahwa ia telah ditunjuk sebagai Panglima Mandala dan telah menyusun strategi militer untuk merebut Irian Barat. Seluruh strategi militer yang telah disusun akan berantakan jika permintaan Yamin dipenuhi. Sudah sebelas tahun langkah politik ditempuh untuk mengembalikan Irian Barat namun tidak berhasil. Karena itu strategi militer yang dipercayakan pada Mayor Jenderal Soeharto tidak diintervensi dengan langkah politik.

Lihat juga...