2 Oktober 1965 [V], Persentuhan Bung Karno dengan Pak Harto

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Sebetulnya langkah politik yang diminta Yamin itu sangat mudah dilakukan. Dengan alutsita yang kita miliki saat itu (pada waktu itu alutsita Indonesia adalah yang terkuat di belahan selatan khatulistiwa), tidak sulit menenggelamkan kapal Belanda itu. Dapat saja menggunakan pesawat pembom TU 16 yang dipersenjatai peluru kendali untuk menembak kapal itu. Namun akibatnya akan melebar kemana-mana yang akhirnya tujuan merebut Irian Barat malah tidak akan tercapai.

Jika kapal Belanda itu ditenggelamkan, sangat mungkin Belanda akan meminta bantuan negara-negara  NATO (Belanda anggota NATO), dengan  alasan  diserang Indonesia dengan peralatan perang buatan Rusia. Jika ini terjadi maka seluruh strategi militer  yang telah disusun  merebut Irian Barat menjadi berantakan. Selanjutnya Mayor Jenderal Soeharto mengatakan; “Sudah sebelas tahun masalah Irian barat ini diselesaikan secara politis  namun tidak berhasil, karena itu beri kesempatan untuk diselesaikan secara militer.”

Presiden Soekarno menyaksikan penolakan Mayor Jenderal Soeharto atas kehendak Mohammad Yamin  yang didukung satu kabinet. Menyaksikan seorang prajurit profesional yang tidak goyah pada intervensi politik. Penolakan seorang prajurit profesional atas permintaan satu kabinet (diwakili Yamin) dengan mengajukan argumen yang sulit dibantah.

Akhirnya Presiden Soekarno merestui Panglima Mandala Mayor Jenderal Soeharto merebut Irian Barat dengan strategi militer yang sudah disiapkan yaitu  “Operasi Jayawijaya”, sekaligus Presiden Soekarno membatalkan permintaan Muhammad Yamin.

Berbagai irisan atau persentuhan antara Bung Karno dengan Pak Harto adalah fakta bahwa Presiden Soekarno sudah sangat mengenal Mayor Jenderal Soeharto sejak lama dan sudah mengenal karakternya.

Lihat juga...