2 Oktober 1965 [V], Persentuhan Bung Karno dengan Pak Harto

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Soeharto yang sudah menjadi Panglima Kodam sejak tahun 1956, memegang jabatan strategis seperti Panglima Indonesia Timur,  Panglima Komando Pertahanan Udara Angkatan Darat, Panglima Mandala, Panglima Kostrad, menjadi yang paling potensial untuk diterima oleh slagorde Angkatan Darat.

Dan yang tak kalah penting adalah surat Mayor Jenderal Soeharto yang dikirim pagi hari ke Istana Bogor.  Surat yang berisi laporan atas langkah  yang diambilnya  dalam menumpas kudera Gerakan 30 September dengan meminalasi korban, dan permohonan;  ananda deduko nyuwun dawuh kepada Bung Karno.

Semua hal tersebut di atas sangat mungkin menjadi pertimbangan hingga akhirnya Presiden Soekarno mengatakan; “Harto, kamu tetap bertanggungjawab mengenai pemulihan keamanan dan ketertiban.”

 

Kembali ke Jakarta

Pertemuan di Bogor berlangsung alot selama hampir empat jam. Selesai pertemuan Mayor Jenderal Soeharto kembali ke Jakarta. Di pertigaan Halim dengan Jalan Bogor Lama (pertigaan Hek) bertemu dengan Kolonel Sarwo Edhie. Sarwo Edhie melapor bahwa ia ke Bogor karena mendapat kabar Pak Harto dipanggil Presiden ke Bogor, sekaligus perlu bertemu Presiden karena Komandan Batalyon 454 hanya mau genjatan senjata atas perintah Presiden Soekarno.

Dilaporkan juga tentang ucapan Presiden Soekarno yang mengatakan  bahwa peristiwa ini biasa dalam revolusi. Juga tentang nota Presiden kepada Jenderal Soepardjo untuk menghentikan tembak menembak padahal Soepardjo adalah salah satu pimpinan Gerakan 30 September.

Selesai menerima laporan, Mayor Jenderal Soeharto memerintahkan Kolonel Sarwo Edhie menarik pasukan Resimen Para Komando Angkatan Darat dari Halim ke Cijantung, dan segera mencari nasib para Jenderal yang diculik oleh gerombolan Gerakan 30 September.

Lihat juga...