2 Oktober 1965 [V], Persentuhan Bung Karno dengan Pak Harto

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Hasil pertemuan di Bogor menjadi berita gembira bagi Jenderal AH Nasution dan jenderal-jenderal yang berkumpul di markas darurat Kostrad. Perintah itu menjadi legalitas bagi Mayor Jenderal Soeharto kepada slagorde  Angkatan Darat untuk memulihkan keamanan dan ketertiban pasca kudeta G30S/PKI.

Perintah Presiden Soekarno kepada Mayor Jenderal Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban diumumkan melalui RRI malam harinya.

Setelah pengumuman dari Presiden Soekarno, Mayor Jenderal Soeharto mengumumkan kembali  penugasannya tersebut juga  melalui RRI sehingga masyarakat dan pimpinan militer maupun sipil mengetahui, sebagai berikut;

 

Mengumumkan Perintah Presiden di RRI

“Berdasarkan Surat Perintah Paduka Yang Mulia/Pemimpin Besar Revolusi/Panglima Tertinggi Bung Karno, sebagaimana yang telah bersama-sama kita dengarkan di radio, maka saya Mayor Jenderal Soeharto, yang sejak terjadinya peristiwa Gerakan 30 Serptember memegang sementara pimpinan Angkatan Darat, menyatakan bahwa mulai saat ini pimpinan Angkatan Darat dipegang langsung oleh Paduka Yang Mulia Presiden. Kepada saya masih diberi tugas oleh Paduka Yang Mulia/Pemimpin Besar Revolusi Presiden, untuk mengembalikan keamanan seperti sediakala.”

 

*****

Masyarakat sejak kemarin diliputi kebingungan, menjadi jelas setelah mendengar pidato Presiden Soekarno dan pidato Mayor Jenderal Soeharto, tentang pimpinan Angkatan Darat langsung berada di tangan Presiden Soekarno dan Mayor Jenderal Soeharto diberi tugas memulihkan keamanan dan ketertiban. Sedangkan Mayor Jenderal Pranoto Reksosamudro sebagai caretaker pimpinan Angkatan Darat tidak mengumumkan penugasannya tersebut sehingga mayarakat lebih mengenal Mayor Jenderal Soeharto daripada Mayor Jenderal Pranoto.

Lihat juga...