3 Oktober 1965 [II], Sukitman penunjuk sumur Lubang Buaya

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Sketsa yang dibuat Sukitman menjadi titik terang atau menjadi petunjuk untuk mengetahui keberadaan jenazah jenderal-jenderal Angkatan Darat yang diculik sejak tiga hari yang lalu. Malah Sarwo Edhie mengatakan, jika bukan berdasarkan kesaksian Sukitman, mungkin jenazah para Pahlawan Revolusi baru ditemukan berbilang minggu bahkan bulan,  sejak mereka dibunuh pada 1 Oktober 1965.

Selanjutnya Kolonel Sarwo Edhie memerintahkan Mayor CI Santoso memimpin operasi pencaharian jenazah jenderal jenderal Angkatan Darat. Dibuat tim yang terdiri dari Kompi Benhur dipimpin Letnan Satu Urip Sucipto, satu Peleton Pomad, dan gugus Zeni Kostrad. Ajudan Jenderal A Yani, Mayor Subardi (ajudan Pak Yani), ikut bersama tim mencari jenazah jenderak-jenderal yang diculik.

Pasukan pencari  jenazah (tim) berangkat dari Ci-jantung menuju titik sasaran di daerah Lubang Buaya, Pondok Gede, tempat sumur tua itu berada. Setiba di tempat yang dituju, di tengah-tengah kebun karet, mereka melihat sekitar satu peleton Pasukan Gerak Tjepat (PGT) sedang membongkar perkemahan. Salah satunya kemah tempat Sukitman ditahan.

Baca Juga: 2 Oktober 1965 [I], surat Pak Harto kepada Bung Karno

Mayor Subardi bersama Lettu Urip Soetjipto menanyakan kepada  komandan peleton PGT tentang  kegiatan mereka di sana yang dijawab ini adalah wilayah kesatuannya. Lalu Mayor Subardi mengatakan bahwa atas perintah Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soe-harto, wilayah ini sekarang berada dalam kekuasaan dan diduduki oleh pasukan Angkatan Darat. Tentu komandan peleton itu mengetahui bahwa Mayor Jenderal Soeharto mendapat tugas dari  Presiden Soekarno untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.

Lihat juga...