3 Oktober 1965 [II], Sukitman penunjuk sumur Lubang Buaya

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Pasukan mulai mengeluarkan tanah bercampur sampah dari mulut sumur tua itu. Setelah penggalian mencapai satu meter, diperlukan alat seperti pacul, ember untuk mengangkat  tanah yang ditarik ke atas memakai tali.

 

Warga Lubang Buaya ikut membantu

Karena itu diperlukan tenaga bantuan warga masyarakat sekitar untuk menggali sumur itu. Maka Mayor CI Santoso memerintahkan dua orang prajurit RPKAD menemui Kepala Desa  untuk meminta bantuan warganya mengeluarkan timbunan sampah dan tanah dari dalam sumur itu. Tentu dengan merahasiakan bahwa dalam sumur itu  diduga terdapat jenazah para jenderal Angkatan Darat. Tidak dikatakan bahwa di dalam sumur itu diduga jenazah para jenderal pendam, akan tetapi disebut meminta bantuan menggali benda berharga.

Yusuf, salah seorang warga yang ikut membantu menceritakan kepada Drs. Imam Waluyo dan Suhardjo tentang penggalian sumur di Lubang Buaya.

Baca Juga: 2 Oktober 1965 [IV], Pertemuan paling kritis

Diceritakan oleh Yusuf awalnya ia diminta ikut oleh Kepala Desa untuk membetulkan jembatan. Dengan membawa cangkul ia bergegas naik ke mobil jeep yang dikemudikan oleh Kepala Desa. Setiba di tempat sumur itu  sudah ada Suparjono, Mahmud, Mawi, Pane, Ambar, yang juga datang dikerahkan Pak Kades. [2] (tayang di Serambi.com)

Ternyata bukan untuk membetulkan jembatan tapi diminta menggali sumur oleh tentara yang banyak berada di tempat itu. Menggali sumur yang dipenuhi tanah dan sampah dengan bantuan ember yang dikerek ke atas memakai tali. Terus menggali dari siang sampai malam. Hampir pukul 10 malam galian menemukan sampah basah, pada kedalaman sekitar dua belas meter ditemukan kaki manusia. Tercium bau sangat menyengat hingga ada yang pingsan di dalam sumur.

Lihat juga...