3 Oktober 1965 [II], Sukitman penunjuk sumur Lubang Buaya

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Warga masyarakat yang membantu menggali  ke luar dari dalam sumur dan istirahat, namun tidak diperkenankan meninggalkan tempat tersebut. Mereka baru diperkenankan pulang keesokan harinya, setelah jenazah yang ditemukan di dalam sumur itu dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD).

Penggalian jenazah para jenderal ditulis juga oleh Jenderal Sintong Panjaitan dalam biografinya berjudul “Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando”, oleh Hendro Subroto.  Diceritakan  RPKAD bersama warga masyarakat melakukan penggalian sumur yang ditim-buni sampah. Pada kedalaman delapan meter ditemukan timbunan daundaunan segar, batang pohon pisang dan pohon lainnya. [3]

Mereka semakin yakin sumur ini tempat para jenderal itu dipendam karena ditemukan potongan kain yang digunakan sebagai tanda oleh prajurit batalyon 454 dan batalyon 530.

Sampai kedalaman sekitar dua belas meter ditemukan kaki manusia. Di kedalam tersebut sudah tercium bau jenazah yang sangat menyengat sampai salah seorang yang berada di dalam sumur jatuh pingsang.

Penemuan kaki manusia di dalam sumur tua itu dilaporkan oleh CI Santoso ke Sarwo Edhie yang kemudian laporan itu diteruskan ke Panglima Kostrad. Menerima laporan tersebut, Mayor Jenderal Soeharto memerintahkan untuk menghentikan penggalian. Mayor Jenderal Soeharto akan hadir menyaksikan evakuasi jenazah para jenderal besok hari.

 

 

Bersambung   

====

[1] Buku: Sukitman Penemu Sumur Lubang Buaya, oleh Drs. Soemarno Dipodisastro, penerbit Yayasan Sukitman.

[2]  Yusuf diwawancarai oleh Drs. Imam Waluyo dan Suhardjo dari Musium Lubang Buaya.

[3] Buku: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, oleh Hendro Subroto, penerbit buku Kompas. Sintong Panjaitan saat itu berpangkat Letnan Satu adalah bagian dari Kompi Faisal Tanjung. Selain ikut dalam penggalian jenazah Pahlawan Revolusi, Peleton Letnan Satu Sintong Panjaitan adalah yang merebut RRI dari penguasaan Gerakan 30 September pada 1 Oktober 1965.

Lihat juga...