4 Oktober 1965 [I], Meminta bantuan Ki IPAM KKO-AL

OLEH NOOR JOHAN NUH * penulis buku dan bergiat di forum Yayasan Kajian Citra Bangsa (YKCB) Jakarta

Malam itu juga, sekitar pukul 03.00, Kapten Soekendar dibantu Letnan KKO Mispan Sutarto dan Sersan KKO Saparimin, berangkat menuju MBAL mengurus ijin yang dimaksud.

Selesai urusan di MBAL, berangkat ke pabrik zat asam di Manggarai untuk mengambil zat asam (agualung) dengan perhitungan satu peti untuk satu jenazah, ditambah satu untuk observasi, maka dibutuhkan delapan peti.

Setelah itu, sekitar pukul 05.00, menuju Dermaga III Tanjung Priuk. Dari kapal RI Multatuli mendapat pinjaman dua set masker lengkap dengan pakain selam.

Sekitar pukul 07.00, tiba kembali di Markas KKO. Bersama sembilan orang penyelam dari Kie IPAM yaitu; Kapten KKO Winanto, Letnan KKO Mispan Sutarto, Sersan KKO Saparimin, Kopral KKO Kandau, Kopral KKO Sudardjo, Kopral KKO Sugimin, Kopral KKO Hartono, Kopral KKO Samuri, Prajurit KKO Subekti, ditambah dua orang dokter yaitu Kapten Kes. Drg. Sumarno dan Letnan Kes. Dr. Kho Tjio Liang, mereka berangkat ke markas Kostrad untuk melapor, dan selanjutnya menuju Lubang Buaya.

 

Tim evakuasi tidak diijinkan ke areal sumur

Sekitar pukul 09.00, Kapten CZI Robertus Soekendar dan tim evakuasi jenazah tiba di Lubang Buaya. Namun tempat yang dijaga oleh RPKAD, tidak memperkenankan siapapun masuk ke dalam.  Meskipun sudah dijelaskan oleh Kapten CZI Robertus Soekendar maksud kedatangannya bersama tim untuk mengevakuasi jenazah atas perintah Panglima Kostrad, tetap saja tidak diperkenankan masuk ke areal sumur itu berada.

Demikian tegang suasana pada waktu itu hingga terjadi saling curiga mencurigai antar unsur tentara. Penjaga areal tersebut adalah  prajurit-prajurit RPKAD menjalankan perintah bahwa tidak ada yang boleh mendekat ke sumur itu, hingga tim evakuasi tidak diperkenankan masuk ke areal sumur Lubang Buaya.

Lihat juga...