6-10-1979, Lantik empat Duta Besar, Presiden Soeharto: Konfrontasi bukan jalan pemecahan masalah

SABTU, 6 OKTOBER 1979 Presiden Soeharto di Istana Merdeka melantik empat duta besar RI yang baru.

Para duta besar itu adalah Imam Soepomo untuk Iran dan Oman, Sajid Basuki Sastrohartojo untuk Bangladesh, Joost Olivier Rotty untuk Bulgaria dan Anak Agung Gede Oke Djelantik untuk Argentina merangkap Uruguay dan Chili.

Dalam amanatnya, Kepala Negara antara lain mengatakan bahwa pembangunan dunia yang lebih adil dan lebih maju akan sulit dapat dicapai melalui konfrontasi.

Pengalaman dunia dalam dasawarsa terakhir ini menunjukkan bahwa konfrontasi bukanlah jalan keluar yang baik bagi penyelesaian berbagai masalah umat manusia.

Bangsa-bangsa sekarang telah tiba pada tingkat hubungan yang demikian erat, sehingga saling membutuhkan dan nasibnya saling bergantungan.

Ditegaskan oleh Presiden bahwa yang penting adalah adanya kemauan semua pihak untuk berembuk bersama dan menemukan jalan keluar yang menguntungkan bagi semua pihak.

Untuk ini semua negara harus bersedia mengembangkan saling mengerti, saling hormat menghormati, saling percaya, saling bantu membantu dan tidak mencampuri urusan dalam negeri pihak lain.

Presiden Soeharto juga mengingatkan, bahwa pelaksanaan politik luar negeri Indonesia harus diabdikan pada kepentingan Nasional.

“Ini berarti bahwa politik luar negeri itu harus menunjang kemajuan pembangunan yang sedang giat-giatnya kita lakukan dan sekaligus juga mengamankan kelangsungan hidup Bangsa kita,” tegas Kepala Negara.

Melalui pembangunan ekonomi, Indonesia berusaha mencapai kemajuan yang membawa kesejahteraan dan berisi keadilan sosial.

“Dengan pembangunan ekonomi itu, kita berikhtiar untuk memperkokoh ketahanan nasional. Sehingga kita dapat berdiri tegak terhadap kemungkinan datangnya bahaya tarik menari dari luar atau ancaman-ancaman lainnya,” demikian Presiden Soeharto.

Lihat juga...