Kisah Pencurian di Tengah Malam

CERPEN ALDI RIJANSAH

Mungkin kau mengira aku pembual dan cerita yang akan aku sampaikan ini sekadar igauan sebelum ajal menjemputku, tapi biar aku memberitahumu, ini adalah sesuatu yang nyata.

Mengingat diriku yang hampir habis dimakan waktu, hingga kau sendiri dapat mencium bau tanah kematian dari setiap jengkal tubuhku, penanda bahwa aku akan segera bergabung dengan mayat-mayat busuk di pemakaman.

Kuharap dapat menceritakan sedetail-detailnya tentang apa yang telah kulakukan di masa lalu ini. Semoga pikiran tuaku masih mampu melakukannya. Meski teror karena dosa ini sendiri secara perlahan mulai membuatku lupa beberapa bagian dari cerita yang akan aku sampaikan.

Walaupun kau mengenalku sebagai seorang yang baik, ketahuilah bahwa pengalaman mengerikan ini tidak akan pernah terlupakan. Karena saking mengerikan cerita ini, aku tak sanggup menceritakan ke siapapun. Baik kepada istri atau anak-anakku.

Tapi diakibatkan penyesalan yang terlalu kuat terpendam, aku tidak bisa membiarkan rahasia kelam ini terkubur bersama diriku ke liang lahat tanpa kau sebagai menantu yang perhatian dan kupercaya betul untuk menjadi saksi kebenaran akan hal ini.

Dulu, sebelum aku merintis bisnis yang membuatku menjadi kaya seperti sekarang, aku hanya seorang sarjana pengangguran yang menumpang dari satu rumah sahabat ke rumah sahabat lain. Atau terkadang tidur di masjid untuk akhirnya diusir oleh siak keesokan harinya.

Terus kulakukan setelah tiga tahun kelulusan perkuliahan. Aku sebenarnya bisa saja pulang ke rumah kedua orang tuaku, tapi harga diri dan usaha pembuktian diri menghalangi.

Maka kau bisa menebak, aku hidup terlunta-lunta. Menjadikan warung kopi sebagai tempat penyambung nyawa dengan hutang yang kian bertumpuk, serta meja perkumpulan bersama dengan manusia-manusia menyedihkan lain tanpa tujuan hidup yang jelas.

Lihat juga...