Kisah Pencurian di Tengah Malam

CERPEN ALDI RIJANSAH

Atau beberapa yang memiliki tujuan hidup yang jelas tapi mengarah ke kejahatan. Berteman dengan pengamen, pemabuk, copet, begundal jalanan, sarjana pengangguran lain, maupun para bajingan yang menunggu ajal ditembak timah panas polisi.

Jadi walaupun kau lulusan terbaik suatu universitas, kau hanya akan berakhir menjadi pengangguran, jika tanpa sogokan uang atau orang dalam yang kau kenal, kau tidak mungkin dapat diterima kerja di suatu instansi pemerintahan yang kau ingin.

Maka aku berakhir menjadi teman main gaple atau remi para bajingan tengik itu. Meski aku tidak pernah berhasil dibuat terjerumus ajakan melakukan kejahatan mereka. Walaupun begitu, diantara para sampah masyarakat ini ada satu orang yang cukup dekat denganku, itu adalah Luduj Namalah. Aku tak yakin itu nama asli, tapi nama itulah yang akan ia berikan setiap ada yang bertanya perihal nama.

Aku di warung kopi biasa memanggil ia dengan panggilan Nam. Seperti orang lain kebanyakan memanggilnya. Ia seorang sarjana Hukum, menurut pengakuannya sendiri, meski aku tak pernah sungguh percaya. Jadi kau dapat katakan ia setengah pembual. Dan seperti semua pecundang di warung kopi itu, ia pengangguran, untuk kemudian menemukan bakat menjadi copet.

Siang itu, tepatnya tanggal sekian. Bulan sekian. Tahun sekian. Aku sedang malas-malasnya bermain kartu dengan teman-teman bajinganku. Aku tiga kali berturut-turut kalah setelah tiga kali ronde.

Aku memang sedang tidak semangat hari itu. Dan yang lain juga tidak dapat bertahan lama di tempat mangkal kami. Mungkin karena hari yang muram. Mendung tidak mau bergeser dari langit, bahkan saat jam gantung pada dinding bambu warung menunjukkan pukul dua siang.

Lihat juga...