Kisah Pencurian di Tengah Malam

CERPEN ALDI RIJANSAH

Semakin suram dengan tatapan pemilik warung yang benci kami berada di sana tapi enggan berani mengusir. Aku sedang membaca koran bekas hari kemarin untuk membunuh waktu saat Nam datang dan duduk di sampingku.

“Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?” tanyanya menepuk bahuku.

“Baik. Kau sendiri?”

“Buruk sekali. Seminggu lalu dihajar tiga preman di terminal, untung lolos.” Ucapnya. Meski aku tidak peduli. Terus membaca koran. Meski kusadari bekas luka robek di sudut bibir kanan.

Kami kemudian diam selama beberapa saat. Saling menyesap kopi masing-masing yang telah datang sedari tadi.

“Kau masih menganggur,” nada kalimatnya tidak bertanya.

“Aku tidak mungkin di sini berbicara denganmu jika telah bekerja.”

“Jika kau mau, aku bisa menawarkan pekerja…”

“Jadi copet. Kau gila kalau berpikir aku mau.”

“Tentu tidak.”

“Jadi rampok.”

“Aku tentu tidak akan mengajak orang macam dirimu untuk pekerjaan sejenis itu.”

“Memangnya pekerjaan seperti apa yang kau butuh bantuanku.”

“Pekerjaan ini sebenarnya sederhana dan juga hanya perlu satu orang untuk melakukannya. Tapi akan lebih cepat jika dilakukan oleh dua orang. Aku mengajakmu juga, sebab tak tahan melihat wajah kusut menyedihkan itu.”

Ia pun mulai bicara. Menyebut ini adalah pekerjaan mudah, dapat selesai hanya dalam waktu satu malam, itu jika aku bersedia turut serta malam nanti.

Menyuruhku menunggunya jam sebelas malam nanti jika tertarik, jika tidak ia akan pergi sendiri. “Aku tidak memaksamu untuk ikut. Tapi pekerjaan ini sungguh sangat mudah. Uang yang kau dapat juga lumayan.” Ucapnya menghabiskan kopi yang tinggal setengah. Lalu pergi.

***
Malam harinya aku menunggu di tepian sungai yang ia maksud. Didorong putus asa akan keingian mendapat uang atau mungkin karena penasaran karena betapa misterius penjelasan tentang pekerjaan yang ia tawarkan.

Lihat juga...