Kisah Pencurian di Tengah Malam

CERPEN ALDI RIJANSAH

Merokok, habis, menyulut yang baru. Merokok, habis, menyulut yang baru. Sudah dua puntung rokok yang habis, sekarang yang ketiga. Berdiri di samping tepian sungai sungguh membuat merinding, bukan karena tempat yang basah serta lembab, tapi lebih dikarenakan ketidakjelasan hal yang akan kami lakukan.

Detik waktu seakan berjalan sangat lambat. Seperti aku tak lagi berada dalam realitas dunia ini, tapi tentu saja itu hanya khayalan yang aku buat-buat.

Rokok yang keempat telah terbakar setengah saat Nam tiba disana dengan sepeda motor bebek yang entah milik siapa ia pinjam.

“Kau tidak lama menunggu?” Tanpa membalas aku langsung naik di belakang. Nam langsung menarik gas. Saat itu aku menahan diri untuk bertanya. Aku ingin melihat dulu kemana kami akan pergi dan apa yang akan kami hadapi.

Pertama-tama kami keluar dari kota. Untuk kemudian berkendara ke sisi perbukitan. Zaman itu lampu jalan belum banyak terpasang, jadi dapat kau bayangkan betapa perjalanan kami itu tak nyaman karena harus menembus malam yang gelap gulita.

Kami berada di jalan raya sekitar satu jam untuk menuju, sepertinya, sebuah pedesaan. Saat sampai di gerbang masuk, ia kemudian menurunkan tarikan gas dan mengemudikan motor dengan lebih pelan.

Berkendara lurus hingga pertigaan, berbelok ke kanan, kemudian lurus lagi untuk masuk ke bagian desa yang semakin jarang terdapat rumah. Kami berhenti di sebuah gang kecil di ujung jalan.

Nam kemudian memarkir motor ke semak-semak rimbun di dekat kami. Dari semak-semak ia membawa keluar lentera, parang, dan dua sekop. Sepertinya ia telah menyimpan barang-barang itu hari sebelumnya.

Lihat juga...