Kisah Pencurian di Tengah Malam

CERPEN ALDI RIJANSAH

“Untuk apa membawa parang?”

“Cuma berjaga-jaga,” balasnya santai.

Lingkungan sekitar kami sangat gelap ketika Nam memimpin di depan dengan lentera, membelah pekatnya kegelapan pepohonan di sekeliling kami, meski ketika itu kami berjalan melalui jalan setapak.

Sejenak aku menyesal telah setuju untuk ikut. Tapi sudah terlambat untuk hal itu. Tak beberapa lama, kami sampai di gerbang masuk sebuah pemakaman.

“Apa kita akan masuk?”

“Tentu, kau pikir kenapa kita di sini.” Dapat kurasakan keyakinan campur kenekatan dari nada suaranya.

Kami pun melangkah masuk dengan lentera kedua yang baru sekarang ia nyalakan. Dan juga baru saat itu kusadari ada. Sementara Nam memimpin di depan, aku mencium bau peluh keringat tubuhnya.

Saat ini pasti keringatnya sedang bercucuran dengan hebat mirip es dibiarkan di tempat terbuka. Aku iseng mengarahkan lentera ke sekeliling, dan segera terlihat papan-papan nisan kayu tua yang kusam.

Ketika telah sampai pada tempat yang dirasanya tepat. Nam pun berhenti, mengarahkan lentera ke sekitar untuk mengamati keadaan sebentar, sebelum menyuruhku untuk bersiap menggali sebuah makam di hadapan kami.

“Kau gila!” Teriakku agak pelan. Tak ingin warga kampung itu tahu ada dua lelaki asing sedang berada di pemakaman desa mereka. Ia tak menggubrisku dan mulai menggali.

“Apa ini lelucon.”

“Tertawalah jika kau anggap lucu.” Balasnya tanpa melihatku.

Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Ini sudah kepalang tanggung menurutku. Maka akupun ikut menggali. Saat menggali, aku menyadari bahwa itu adalah sebuah kuburan baru, tanahnya masih gembur dan masih berwarna terang. Jika saja kau dapat merasakan ketakutan yang aku rasakan saat membongkar kuburan itu menantuku, kau pasti akan sama ngerinya denganku.

Lihat juga...