Kisah Pencurian di Tengah Malam

CERPEN ALDI RIJANSAH

Tak butuh lama ketika kuburan itu telah terbongkar sempurna dan papan-papan penghalang kayunya kami singkirkan dan mayat itu kami keluarkan dari lubang. Jenazah seseorang kini berada di hadapan kami.

Terbungkus kain kafan. Kakiku agak menggigil, tapi bukan hanya aku saja, Nam pun terlihat agak segan. Kuyakin itu juga kali pertama ia melakukan hal macam itu. Tiada yang segera bergerak di antara kami berdua, jadi kami mematung agak sebentar.

Hingga Nam mulai berjongkok di samping si mayat dan membuka tali pocongnya, seketika bau busuk langsung menguar ke tengah udara, tak tahan, aku pun muntah-muntah. Tapi Nam tak tampak terganggu sebanyak diriku, ia menarik bagian leher bajunya menutupi hidung.

Kusadari saat itu juga kami tengah berhadapan dengan jenazah seorang perempuan muda berusia dua puluhan. Tanpa menunggu waktu, segera Nam menarik keluar tang dari kantung celana belakang.

“Apa yang akan kau lakukan?” Tanpa menjawabku, ia membuka mulut si mayat. Menggunakan sebatang kayu yang ia temukan sebagai penyangga rahang atas dan rahang bawah. Mencabut setiap jenis gigi yang tertanam di mulut si mayat.

Cairan merah kecoklatan mengalir turun dari tempat dimana gigi-gigi tadi berakar disertai bau yang akan membuat seseorang memuntahkan sarapan pagi mereka.

Melihat tindakan tak manusiawi itu, aku bergidik ngeri dengan kaki bergetar. Keringat dingin bercucur dengan deras. Aku merasakan sesuatu yang berada di dalam perutku tengah bergejolak dengan hebat, bagai sedang terjadi angin topan di dalam perutku.

Detik itu juga, aku muntah kembali, sejenis nasi yang terlalu cair serta hancur untuk disebut bubur. Tak menyadari keterkejutanku, Nam telah mencabut habis semua gigi si mayat. Di kedua telapak tangannya ia memamerkan gigi-gigi tersebut.

Lihat juga...