Luka Batin Baridin

CERPEN A. DJOYO MULYONO

Dunia berbanding terbalik, seperti yang kini dirasakan Baridin di pelataran rumahnya yang sedang merenung meratapi nasib yang ditimpa derita berkali-kali. Namun, meskipun demikian, lazimnya seseorang pemuda yang normal, Baridin merasa bahagia selalu setiap kali dalam perenungannya ketika memikirkan dirinya telah sampai maksud untuk bersanding dengan Ratminah yang cantik dan bertubuh sintal itu.

Sesekali jika kelebat wajah dan tubuhnya muncul di pandangannya, Baridin menyunggingkan senyum manis diikuti dengan tertawa mengucapkan kalimat-kalimat khayalan khas pemuda yang sedang ingin sekali menikah.

Terbayang dirinya sedang duduk sanding dengan Ratminah yang dicinta di pelaminan, banyak orang yang datang untuk memberikan selamat dan doa, lampu di rumahnya mendadak terang benderang, teman saudara semuanya kumpul bergembira.

Di saat dirinya melambungkan khayalannya tinggi-tinggi, sahabatnya Gemblung datang menghampiri.

“Gemblung, sini duduk dengannku!” Sambut Baridin sambil menjabat tangannya.

“Sebentar lagi, aku ingin jadi pengantin, siapa lagi yang ingin jadi pengatur semuanya dalam acaraku, kelak kamu yang memandori semua kegiatannya, mencicipi masakannya, hahaha” jelas maksudnya sambil tertawa bahagia.

“Sama siapa kamu hendak menikah, Din?” tanya Gemblung masih keheranan.

“Aku hendak menikah dengan perempuan cantik dan kaya, dia anak dari Bapa Dam, Suratminah namanya.”

“Aih.. Aihh.. Kamu mau menikah dengan Ratminah?” tanyanya tak percaya.

“Apakah kamu tidak bercermin, Din? Kalau Ratminah itu orang kaya, orang bagus rupanya, sedangkan kamu? Hanya pemuda yang tidak cukup bagus rupanya pula hartanya!”

Lihat juga...