Luka Batin Baridin

CERPEN A. DJOYO MULYONO

“Karena orang suka itu berangkat dari rasa cinta bukan dari karena harta, jangan sekali-kali Gemblung menyalahkan asmara lantaran aku yang demikian adanya.”

“Yah bukan begitu maksudku, Din. tapi kamu harus merasa diri, kamu itu wong blesak, sedangkan Ratmina orang paling cantik di desa ini”

“Gemblung, wong nyolong ayam kena disalahkaken, wong gebugi wong kena disalahkaken, wong jiwit wong kena disalahkaken, kaya sira sering nyolong pentile tangga bli wewara kena disalahkaken, tapi yen soal demen aja bae sira sok nyalakaken, kenae asmara ning alam dunia bli kenal dosa asal wajar tunggal menusa.”

“Baiklah. Aku hanya bisa mengingatkan, Din.” Jawab Gemblung pasrah dengan ambisi niat sahabatnya itu.
Dadanya tiba-tiba berdegup, batinnya gelisah, Gemblung merasakan hal ganjil yang akan terjadi atas perkawinan yang akan dilangsungkannya.

Sebagai seorang sahabat, dirinya khawatir jika nanti Baridin hidup lebih menderita karena lebih banyak lagi yang menghina dan tidak bisa mengimbangi gaya hidup istrinya yang terbiasa dengan kemewahan.

Sedangkan ibunya, Mbok Wangsih, belum kunjung pulang dari rumah Bapa Dam yang sedang melangsungkan lamarannya untuk Baridin. Namun setelah matahari condong ke barat, orang yang telah dinanti-nanti itu telah datang pulang dari rumah Bapa Dam.

Tubuhnya lemah, bahunya jatuh dengan tangannya yang memangku muka tersedu berkali-kali mengusap air mata dari matanya.

Seorang ibu yang dinanti-nanti kedatangannya itu malah datang dengan isak tangis yang menyedihkan, dengan kabar mengerikan pula yang disampaikan kepada Baridin putranya. Konon, Mbok Wangsih ditolak mentah-mentah oleh Ratminah dan bapaknya, dirinya diusir dengan kasar hingga nampan anyaman bambu yang berisi irisan pisang tidak lengkap jumlahnya itu terjatuh berhamburan dengan tubuhnya yang rentan.

Lihat juga...