Luka Batin Baridin

CERPEN A. DJOYO MULYONO

“Apa? Mbok Wangsih didorong dan diludah dengan Ratminah?!”

“Iya, Cung. Sudahilah niatmu untuk melamar orang kaya itu, Mbok Wangsih tidak punya apa-apa.”
Hatinya sakit ketika mendengar pengakuan dari Mbok Wangsih, dirinya tak menyangka seorang Ratminah kekasih yang dicintainya tidak baik budi rupanya hingga tega meludahi orang tua seperti ibunya itu.

Baridin bersedih, baru saja membara kecamuk api asmara di dadanya, seketika redam mendengar kejadian demikian, kini hatinya jadi bimbang, dirinya sangat mencintai Ratminah, tapi di sisi lain hatinya sakit ibunya diperlakukan tidak manusiawi seperti itu.

Baridin keluar rumah dengan membawa sarung kesayangan satu-satunya yang tidak pernah diganti seumur hidup itu. Untunglah, di saat yang tepat, Gemblung Dinulur datang untuk mengibur Baridin.

Kejadian seperti ini sudah seperti apa yang ada di pikirannya, semenjak mendengar sahabatnya ingin menikahi Ratminah, pikirannya hanya ada dua kemungkinan, jika tidak ditolak, Baridin pasti hidup menderita.

Sebagai sahabat, Gemblung menyarankan untuk mengamalkan elmu peninggalan orang tuanya. Ilmu itu bisa digunakan untuk seseorang menebus malu atau memang bisa juga untuk berniat rumah tangga yang tulus. Dengan tekad pati, Baridin melakoni elmu itu setelah genap tirakat 40 hari 40 malam tanpa makan dan minum. Kemudian di malam ke 41, tepat pada malam Jumat Kliwon, rapalan itu dibacakan dengan khidmat.

Seperti kepulan asap putih keluar dari tubuhnya di tengah hamparan sawah yang sedang musim kering. Kepulan asap itu terbang dan menukik tajam ketika sampai pada rumah Ratminah, Ratminah tergila-gila mencari Baridin untuk berupaya diterimanya.

Lihat juga...