Sarjana Lima Juta

CERPEN OKY E. NOORSARI

“Kita membayar lebih, agar bisa mendapat lebih.” Aku lupa, entah papa atau mama yang bilang begitu, waktu aku protes terakhir kali, sepuluh tahun yang lalu. Tidak penting juga, sih, siapa yang berkata, toh, mereka sama saja.

Suara hati nuraniku hanya serupa buih ombak. Terhempas di karang, terserap ke dalam pasir. Lantak tak terdengar.
Lalu, aku enak karena masih lajang? Topik ini membuatku tertawa pahit tanpa suara.

Memang setengah mati aku menahan diri untuk tetap lajang. Kebaikan dari kutukan yang aku peroleh ini adalah aku bisa dengan mudah mengenali manusia-manusia yang sejenis dengan kami. Tepatnya sejenis dengan orang tuaku dan lingkaran sosial mereka.

Manusia-manusia yang gegas saat mencium aroma uang, jabatan dan kekuasaan. Namun jangan kalian kira hatiku tak punya rasa cinta. Aku punya. Namun aku tak ingin dia frustasi menghadapi kerakusan kedua orang tuaku. Rasanya hanya ini hal baik yang pernah aku lakukan. Menyelamatkan kehidupan seorang pemuda baik-baik.
***
“Dia sedang pusing nyusun tesis, Mam. Biar cepat dapat gelar S2, setelah itu baru mikir nikah!” Seperti biasa, mamaku selalu berapi-api saat ‘jualan’ anak perempuannya ini. Lawan bicaranya adalah seorang nyonya, istri pengusaha kayu lapis yang kaya raya durjana.

Nyonya itu—yang sudah sangat kukenal sejak remaja—menatapku lekat, seolah sedang menaksir nilaiku untuk disandingkan dengan anak laki-lakinya. Meski lidahku sudah akrab memanggilnya dengan sebutan Tante Yus, aku tidak berniat menjadikannya ibu mertua.

Tiga tahun yang lalu, menjelang wisuda sarjanaku, anak laki-lakinya—yang kerjaannya hanya balapan mobil saja—kutolak dengan sangat santun.

Lihat juga...